Mimpi dari Kintha


Sumber: Pinterest


 


Kalau Jumat sore punya sorakan menang dan atensi akan datangnya dua hari setelahnya dengan lengkungan tipis pada wajah sebagian banyak orang, Kintha punya pesona dalam diam yang tanpa ia sadar telah menenggelamkan seseorang dalam lubang sendu tanpa arah.

 

 

Kintha, buku mimpi kamu belum selesai.

 


 

 

Beribu hari menulis lembaran baru dalam tiap langkah telah memberikan mereka banyak sentuhan damai saat senyum terukir. Mulutnya kerap kali membentuk pergerakan meskipun tak sebanyak kata yang dikeluarkan oleh Niel, tetapi eksistensi atas definisi bahagia mampu menjadikan suasana jauh lebih istimewa menurut keduanya.

 

 

“Kintha, Mars akan terima kehadiranku gak ya kalau aku berhasil mendarat di permukaannya?”

 

“Kintha, kenapa bulan ingkar? kenapa titik terjauhnya tak selalu sama?”

 

Nielio Elard, dengan berjuta pertanyaan yang selalu disambut senyum tipis oleh lawan bicaranya, sosok yang telah menemaninya tiga tahun lamanya walaupun dengan waktu obrolan yang sangat singkat.

 

Kenangan keduanya terlalu banyak untuk dapat ditulis dalam buku harian Niel.

 

Kenangan mereka tak cukup untuk diluapkan dalam lafalan kata melalui mulut manis Niel, mengesampingkan fakta dan predikat ceria yang selalu ia pegang.

 

Kenangan mereka juga tak akan cukup untuk memenuhi coretan nakal jari Niel pada iPad kesayangannya.

 

Kenangan mereka cukup untuk menggores nyata luapnya awan yang memenuhi indahnya lautan biru di atas manik tajamnya.

 

Manis? Retoris menurutnya. Belum ada kata pahit pada hubungan persahabatan keduanya sampai kala itu, kala pertemuan kedua senja di bulan April, saat ia kehilangan raga seseorang tanpa jejak tersisa.

 


 

 

Kinantha Astara, perwujudan nyata dari bagaimana pada dasarnya raga tak selalu mampu wujudkan seluruh prospek impian di dalam benak. Fisiknya mulai rapuh sejak beberapa tahun silam, tak punya sisipan kata senggang untuk melakukan hal lain selain terus dalam jangkauan arti kata produktif di kamus hidupnya. Harinya terorientasi dengan banyak mimpi di luar sana yang tangan kecilnya ingin raih. Niel, sebagai sahabat satu-satunya, tak punya banyak hak kuasa atas waktu istirahat Kintha yang tak kunjung berikan tanda surplus. Niel, sebagai orang yang melihat wajah kintha jauh lebih banyak dari orang tuanya sendiri, hanya bisa mengeluarkan nafas berat setiap netra nya menemukan butir pil, gel pereda nyeri otot, dan inhaler di setiap pergerakan sahabatnya itu.

 

 

“Kintha, kita nonton yuk? Hari jumat sore kok, bisa kan?”

 

15 detik berlalu, Niel putar kepalanya menuju sang lawan bicara yang masih lengkap dengan beberapa berkas miliknya. Hanya helaan nafas Niel yang menemani suasana kelas yang penuh dengan sorakan siswa lain di tengah momentum terbaik bagi kebanyakan siswa, jam kosong.

 

“Kintha? Gak bisa ya?” Tanya Niel.

 

Sedikit tersentak, kintha berikan beberapa detik singkat untuk menatap netra sahabatnya sebelum kembali terfokus dengan benda-benda yang tak Niel tahu kapan akan tunjukkan kata usai.

 

“Hari Sabtu ada deadline submit berkas Summer school tahun ini, kapan kapan aja ya?”

 

Pada awalnya ia tahu skenario apa yang akan datang padanya dengan pertanyaan sekaligus ajakan tadi, seorang Kinantha menghabiskan waktu dengan hal bodoh-menurut kintha-seperti mengunjungi bioskop? Mungkin dapat ia ajukan untuk masuk kedalam keajaiban dunia yang baru.

 

Niel tak tahu pasti mengenai semua kegiatan dan impian-impian Kintha yang sepertinya tak berikan sang wanita muda rasa puas, toh piala dan juga medali sudah menjadi hal biasa untuk ditemukan di kamar Kintha. Yang ia tahu pasti, Kintha tak berikan fokus lebih pada hal lain diluar akademiknya, termasuk pertanyaan apakah raganya dapat terima semua perintah, apakah fisiknya mampu berikan kontribusi nyata dalam tangga meraih semua mimpinya?

 

Kintha tak pernah peduli itu, begitupun sampai kala hari Jumat datang.

 


 

 

Niel putuskan menghabiskan waktu bersama Alan, tak sedekat hubungannya dengan Kintha, tetapi tak bisa munafik kalau ia butuh teman bercengkrama sehabis beberapa minggu hidupnya hanya dipenuhi pemandangan bangku cokelat dan papan tulis. Nama Ashlan tercetak pada seragam rapih sang pemuda, sosoknya tak banyak bicara, sedikit timbulkan kontradiksi dengan figur Niel yang jarang absen timbulkan lengkungan senyum di wajah.

 

“Kenapa, Niel?” Wajah niel menunjukkan sedikit tanda tanya.

 

“Lan, Kintha tuh kenapa sih? What bring her to be like this, kenapa harus dipaksain semua sih?”

 

Alan yang tak begitu paham dengan situasi keduanya memilih untuk memberi anggukan singkat, Toh  kecerdasan sang ambisius Kinantha sudah tak diragukan lagi. Yang Alan ketahui, Kintha tak pernah absen dari seluruh kesempatan mengenai akademika. Namun, dengan mata tajam dan menelisik, Alan dengan mudah dapat menarik sebuah kalimat atas pertanyaan Niel padanya tadi. Kintha, dengan beberapa buku di tangan dan inhaler yang jarinya genggam sambil berlari kecil menuju toilet wanita lantai 2 sekolahnya. Dari sudut pandang Niel, sebagai teman yang baik, selagi keseluruhan skenario Kintha atas mimpi-mimpinya bisa  terwujudkan, kenapa tidak?

 

“Akan datang waktunya fisik Kintha kibar bendera putih kan, Lan?” Manik Niel masih tatap ke arah bawah, ke koridor lantai dua saat Kintha keluar masih dengan inhaler dan tumpukan buku di genggaman.

 


 

 

Jumat kala itu, Niel masih dalam rencana menikmati waktu pulang sekolah bersama Alan, keduanya masih asik di arena arcade menikmati waktu luang dengan garis lengkungan yang terbentuk dari bibir keduanya.

 

 

Niel termasuk dalam tipikal yang tak ingin rusak kebersamaan bersama orang lain hanya dengan notifikasi yang ikut hadir menemani waktu emasnya. Ia tak mau eksistensi gawai mendominasi waktunya bersama orang lain, itu prinsip Nielio.

 

Sesuai dengan prinsipnya, Niel fokuskan atensi nya pada malam itu untuk kegiatan penjernihan pikiran-begitu ia menyebutnya-bersama Alan. Lampu teater sudah mulai dimatikan, kedua pemuda telah menyamankan diri pada kursi empuk dengan atensi penuh pada layar besar di hadapan. 30 menit berlalu, Niel sadar atas beberapa interupsi dari gawai miliknya, ia sempatkan untuk alihkan perhatiannya pada notifikasi yang muncul beberapa menit sebelum langkahnya menuju kedalam ruangan teater. Maniknya menelisik kata demi kata yang tersampirkan di layar, alisnya mulai mengerut implikasi tanda tanya yang mulai menyeruak. Pada detik yang sama, Alan sadar dengan lagak Niel yang membatu di hadapan layar.

 

Ashlan, kita ke rumah sakit sekarang.

 


 

 

Itu Kintha, Kinantha Astara yang Niel kenal. Kinantha Astara dengan senyumnya yang tipis namun berarti, Kinantha Astara yang tak pernah absen bersama buku-buku tebalnya, Kinantha Astara yang ambisius akan semua mimpi mimpinya, tanpa mengenal apapun halangan yang siap untuk menghalanginya di hadapan. Itu Kintha, berbaring di salah satu kasur bangsal ICU rumah sakit, dengan berbagai selang yang terpasang dan (BINGUNG) di sekitarnya. Niel tak punya cukup pengetahuan mengenai tajuk alat-alat  yang menyertai sahabatnya di sana, yang ia ketahui hanya bendera putih fisik Kintha telah berkibar tanda akan menyerah.

 

 

Belum ada tanda kehadiran orang tua Kintha, hanya Niel yang menunggu di sofa luar bangsal, tepat di depan Lift mengingat bangsal ICU punya jam kunjungan khusus. Banyak orang dan perawat berlalu lalang dengan tatapan menelisik juga sendu melihat siswa sekolah menengah atas dengan seragam lengkap dan wajah pucat tatapan kosong sedang duduk di sofa tunggu ICU. Niel tak peduli dengan batapa menyedihkannya penampilannya sekarang, ia hanya peduli kapan Kintha bisa keluar dari ruangan tersebut dengan lengkap, dengan seutuhnya Kintha yang ia kenal sebelumnya tanpa ada kurang sedikitpun, tanpa sebulir tetesan yang keluar dari manik indahnya.

 

4 jam duduk tanpa kejelasan, Niel mulai kesal dengan keadaan. Walaupun otaknya tak begitu mengerti dengan prosedur yang ada, ia tahu bahwa dokter tak punya hak tindakan lanjutan atas pasiennya tanpa persetujuan wali. Beribu jam yang telah berlalu belum beri niel tanda akan kehadiran orang tua Niel, kuasa yang ia pegang hanya sebagai penunggu pasien, bukan penetu nasib dan tindakan atas Kintha. Miris? Biarkan tangis yang mulai turun dari mata Niel jawab pertanyaan ini.

 

Tuhan, siapa sangka tatapan sendu Niel pada Kintha sebelum keluar toilet  lantai 2 tadi siang merupakan kali terakhir ia mentap sahabatnya hirup limpahnya oksigen?

 


 

 

Kala itu, pertemuan kedua senja di hari Jumat dengan bulan April, fisik Kintha pilih tutup buku mimpi-mimpinya secara paksa, meninggalkan banyak serpihan angan yang belum sempat ia raih.

 

 

Niel tak pernah benci Jumat, hari penuh dambaan semua orang yang siap siaga sambut akhir pekan, juga sebagai tanda mulainya bahagia atas lepasnya beberapa beban di pundak. Kali ini, Niel benci Jumat, ia benci bagaimana hari yang indah itu rebut salah satu permata temaram yang pernah hadir eksistensinya di dunia. Ya, pernah hadir.

 

Niel tak mampu tulis bagaimana persahabatan keduanya ubah bagaimana dirinya buka pandangannya atas besarnya dunia, Kintha membuka banyak celah yang sebelumnya belum pernah disentuh olehnya. Mimpi-mimpi kintha terlalu banyak untuk ia sebutkan satu persatu.

 

Kintha, buku mimpi kamu belum selesai. Ucapnya sambil terduduk di depan proses kremasi sahabatnya. Fisiknya tak kuat ikut hadir di samping peti mati sang sahabat. Seharusnya kintha hadir pada technical meeting dari summer school yang ingin ia ikuti sejak lama, tetapi siapa yang sangka Tuhan punya rencana lain?

 

Rabu sore di minggu berikutnya, dengan awan yang kian menutupi celah intipan Sang surya sebelum kembali berpulang dan akhirnya datang dengan binarnya esok pagi. Niel masih tak beranjak, hanya duduk dengan pandangan kosong. Bedanya, tak ada lagi eksistensi tetesan air yang keluar dari ujung matanya.

 

Pandangan kosong, rahang yang kian mengeras implikasi emosi yang belum sempurna meledak melalui fisik rapuhnya.

 

“Kalau kamu pergi selamanya, harusnya aku bisa nyusul kan?” (Arifah Farsyah Riyandini)

No comments