Header Ads

ad

Berkunjung ke Cagar Budaya Warisan Dunia ; Museum Purbakala Sangiran

Halo sahabat PH! Apa kabar liburan semester ini? pasti pulang ke daerah asal masing-masing kan? Nah, disini aku mau cerita mengenai tempat yang aku kunjungi yaitu Museum Purbakala Sangiran.
Jawa Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki berbagai tempat wisata yang menarik. Tak hanya menarik, tempat-tempat tersebut memiliki nilai sejarah yang berguna untuk Indonesia sendiri maupun dunia. Bahkan salah satu tempat wisata di Jawa Tengah telah masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia, yaitu Candi Borobudur.  Selain masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia, tempat wisata di Jawa Tengah juga telah masuk ke dalam cagar budaya warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization), yaitu Museum Purbakala Sangiran.
Museum Purbakala Sangiran merupakan situs arkeologi yang jadi salah satu tempat penting di dunia untuk mempelajari fosil manusia purba. Museum ini terletak di desa Krikilan, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah.  Letaknya berada pada 18 kilometer dari arah Solo. Lokasi penelitian kepurbakalaan atau lebih dikenal dengan situs Sangiran berada dalam area 56 kilometer persegi yang mencakup 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Plupuh, Kecamatan Gemolong, dan Kecamatan Kalijambe sendiri, serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.


Photo by Aulia
Sejarah Museum Sangiran bermula dari tahun 1930-an dengan ditemukannya sebuah atap tengkorak oleh warga setempat, yaitu Setu Wiryorejo. Beliau adalah seorang yang bekerja sebagai petani dan menemukan fosil tersebut di area tempatnya bekerja. Dianggap sebagai penemuan penting, akhirnya peneliti asal Balanda bernama G.H.R Von Koenigswad mengadakan penelitian perdana di sekitar wilayah tersebut. Pada penelitian perdana itu ditemukan banyak benda-benda langka yang terkubur di tanah Sangiran. Akhirnya, Von Koenigswad mengajak serta warga sekitar untuk turut melakukan pencarian serta mengumpulkannya sebagai bukti penelitian. Fosil maupun kerangka yang berhasil ditemukan secara bersama-sama ini dikumpulkan di salah satu rumah penduduk milik Kepala Desa setempat. Proses pengumpulan ini berlangsung cukup lama sekitar 40-an tahun sampai dengan tahun 1975.
Koleksi Museum Purbakala Sangiran pertama kali ini terdengar di telinga orang-orang hingga membuat banyak pengunjung datang untuk melihat seperti apa benda-benda purbakala yang berhasil ditemukan di Jawa Tengah tersebut. Karena semakin banyak wisatawan yang datang dan semakin banyak pula koleksi benda-benda yang ditemukan, tercetuslah ide untuk membangun museum. Pada tahun 1975 dibangunlah sebuah museum sederhana tidak jauh dari Balai Desa Krikilan yang diberi nama Museum Purbakala Sangiran. Dua tahun setelahnya yaitu pada tahun 1977, Museum Sangiran ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Tiga tahun kemudian pada 1980, area museum mulai diperluas dengan luas tanah 16.675 meter persegi.

Photo by Aulia
Koleksi fosil manusia purba di Museum Sangiran tak tanggung-tanggung. Terdapat sekitar 13.086 koleksi fosil manusia purba dan menjadi situs manusia purba yang terlengkap di kawasan Asia. Selain koleksi fosil, museum ini kini telah menambah fasilitas seperti ruang pamer yang digunakan untuk penyimpanan koleksi fosil-fosil, ruang laboratorium tempat proses konservasi fosil-fosil yang ditemukan, ruang audio visual untuk pemutaran film kisah kehidupan manusia prasejarah, akses komputer yang bisa digunakan untuk melihat fakta-fakta dari seluruh fosil yang ditemukan, beberapa hewan seperti burung merak, balai pertemuan dan spot foto yang menarik.


Photo by Aulia
Photo by Aulia
Museum Purbakala Sangiran telah menambah empat museum klaster baru yang telah dibuka untuk umum, yaitu Klaster Ngebung, Bukuran, Manyarejo dan Dayu. Klaster Ngebung dengan ikon patung gajah purba menitikberatkan pada sejarah penemuan situs Sangiran, karena di sanalah lokasi pertama kali dilakukan penggalian secara sistematis dengan hasil yang menakjubkan. Museum klaster Bukuran berisi sejarah asal muasal kehidupan yang ditunjukkan melalui penjelasan seputar teori-teori evolusi dan faktor-faktor di sekitar yang memengaruhi. Museum Manyarejo menyajikan lokasi nyata (on the spot) suatu bidang tanah tempat ditemukan fosil dan sampai sekarang masih terus di lakukan eksplorasi, juga secara interaktif pengunjung akan mengetahui informasi tersebut melalui display komputer di
dalam ruang pamer.
 Museum Dayu menyajikan informasi tentang lapisan tanah purba dan budaya manusia jenis Homo Erectus terlengkap. Biaya masuk Museum Purbakal Sangiran sangat terjangkau, hanya Rp 5000 per orangJam buka museum setiap hari Selasa-Minggu pukul 08.00-16.00 WIB, untuk hari Senin libur. (Rizki Aulia)

No comments