Header Ads

ad

Tembalang Gawat DBD

Photo: PH
Demam berdarah merupakan penyakit yang sangat umum dijumpai di Semarang. Bahkan wilayah Semarang ditetapkan sebagai daerah endemik penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Dalam keterangannya saat ditemui pada Selasa (9/4), Heri Wobowo, SKM selaku Kepala Puskesmas Rowosari, Semarang, kasus DBD mengalami peningkatan untuk tahun ini. Yakni dari 62 kasus yang ada di tahun 2012, laporan kasus DBD hingga Maret 2013 sudah mencapai 32 kasus padahal bisa dikatakan belum ada seperempat dari tahun 2013. Heri mengemukakan kenaikan ini mungkin berhubungan dengan siklus lima tahun yang ada, terhitung sejak tahun 1969 DBD mulai dikenal di Indonesia. Siklus lima tahunan berhubungan dengan musim yang ada di Indonesia, selain itu juga kewasapadaan masyarakat yang kurang optimal.
Di antara semua data yang masuk, menunjukkan bahwa kasus DBD paling banyak terjadi di
Kelurahan Tembalang. Hal ini dikarenakan lingkungan Tembalang yang tidak kondusif, baik tingkat kepadatan pemukimannya serta kepadatan penduduk yang didominasi oleh mahasiswa yang bersifat heterogen. Pada bulan Januari hingga Maret 2013 tercatat ada 14 kasus, sedangkan di tahun 2012 sendiri untuk Kelurahan Tembalang total ada 17 kasus. Selama ini dari sekian banyak kasus yang ada belum ada korban yang meninggal akibat DBD. “Kita berharap tidak ada korban yang meninggal walaupun ada yang sakit,” Heri menambahkan.
Dari data yang ada usia yang paling sering terserang DBD adalah anak sekolah. Laporan yang masuk biasanya berasal dari masyarakat serta Rumah Sakit. Untuk pasien DBD yang cukup parah, biasanya dirujuk ke beberapa rumah sakit diantaranya RSUD Tembalang, RS Pantiwiloso, RSUD Dr.Kariadi, RS Sultan Agung, serta rumah sakit lain yang berada di Kota Semarang. Menurut Perda Kota Semarang No. 5 Tahun 2010, tindakan yang harus dilakukan antara lain pengontrolan PSN seminggu sekali, pengontrolan jentik oleh kader, pengontrolan dari puskesmas terhadap daerah rawan DBD setiap bulan, dan lain sebagainya.
Bagaimanapun juga permasalahan DBD bukan semata-mata tanggung jawab Puskesmas saja. Peran serta masyarakat dan institusi-institusi yang ada dengan mencoba untuk peduli dengan lingkungan sekitar juga penting. Saat ini sarang nyamuk sering tidak terdeteksi, jentik nyamuk bukan hanya ditemukan di genangan air saja, namun seperti di tempat penampungan air dispenser, penampungan air di lemari es juga dapat kita temui jentik-jentik nyamuk. Dari penelitian yang ada, sekarang bukan hanya nyamuk saja yang mengandung plasmodium, namun telur nyamuk juga sudah mengandung plasmodium di dalamnya.
Cara yang efektif untuk mencegah DBD yaitu dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) karena selain mudah, murah, serta dapat menciptakan suasana gotong royong. Sedangkan vogging hanya akan dilaksanakan apabila sudah ada kasus. Karena sifatnya yang berupa racun, maka vogging adalah cara yang kesekian yang baru akan diambil untuk memeberantas sarang nyamuk. Di Puskesmas Rowosari sendiri memiliki beberapa macam kegiatan penyuluhan DBD, salah satunya adalah “S3” atau “Senin Serba Serbi” yang dilaksanakan di Posyandu mulai pukul 08.30-09.00 WIB.
Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan akan membantu mencapai angka bebas jentik yakni sebesar 95%. “Dikarenakan kesadaran masyarakat yang masih rendah maka pemerintah belum berani mencanangkan target yang nyata. Namun, akan selalu diupayakan untuk dapat menurunkan angka kasus DBD sesuai harapan yakni menjadi 0%,” kata Beliau mengakhiri pembicaraan. (Ryani)

No comments