Display

Ketika Pencinta Alam Kembali Menemui Sang Pencipta” Caring CoastEarth “Mangrove untuk Bumi” UNDIP KTR Kembali Bergaung Berbagi Informasi bersama anakundip.com Warung Jepang WaSabi

Rabu, 29 Mei 2013

Sejauh Mana TVOne Memberitakan ARB?

Photo : twitter.com/karniilyas
“Korupsi Dari Masa ke Masa” menjadi pilihan tema diskusi kampus oleh Karni Ilyas di Gedung Prof. Soedharto,S.H Undip, Senin (28/5). Ruangan dipenuhi oleh mahasiswa Fakultas Hukum, mulai dari Undip, Soegiapranata, Unibraw, USM dan universitas lain ditambah bintara/i dari AKPOL (Akademi Polisi) Semarang. Diskusi kampus bertajuk Jurnalisme Hukum ini terselenggara atas kerjasama stasiun TV swasta, TVOne dan Fakultas Hukum Undip.
Sosok Karni Ilyas menjadi masyhur lantaran program TV fenomenal berjudul Indonesia Lawyers Club (ILC). Beliau adalah Pemimpin Redaksi (Pemred) TVOne yang tidak diragukan lagi kemampuannya membidangi keredaksian setelah sempat bertengger sebagai Pemred Koran Tempo, SCTV dan ANTV. Empat puluh tahun beliau mengabdi untuk berita, begitulah hidupnya semakin berarti, sesuai judul buku karangannya. Kehadiran beliau di hadapan mahasiswa Hukum adalah nafas baru dan mereka
menunggu resep dapur Bung Karni Ilyas dalam menggali kasus hukum di Indonesia.
Diskusi berlangsung selama 2 jam dan begitu tinggi antusias penanya. Ada pertanyaan menarik dari mahasiswa asal Padang. Ia mengutip pernyataan Bung Karni Ilyas di bukunya “Mungkinkah MNC menggempur Hari Tanoesudibyo? , Mungkinkah MetroTV mengkritik Surya Paloh ...dst”. Kemudian dengan lantang si penanya mengatakan “Bung, sejauh mana TVOne memberitakan Aburizal Bakrie (ARB) selama ini?” Pertanyaan tandas dan mencuri tepuk tangan riuh peserta diskusi.
Bung Karni Ilyas tertawa dan menanggapi pertanyaan hingga turun panggung mendekati peserta. “Di media mana pun, pengaruh selalu ada baik dari wartawan, keluarga apalagi pemilik media. Independensi sebuah media sangat bergantung pada kegigihan redaksi mempertahankan idealisme. Maka dari itu, selama saya menjadi pemred, tidak pernah saya mengizinkan anak buah saya menerima amplop dan masuk dalam kepentingan partai politik. Ini adalah syarat mutlak untuk wartawan saya. Sekalipun yang jadi korban adalah anak kandung saya sendiri, yang sekarang jadi caleg sebuah partai. Saya tegas mengeluarkan anak saya dari keredaksian TVOne”.
Mengenai ARB, beliau menyatakan bahwa tetap mengutamakan kepentingan publik, termasuk ketika ARB tersangkut kasus korupsi dan diberitakan bertemu Gayus Tambunan. Karni Ilyas mengundang ARB di ILC dan menanyakan hal tersebut, yang pasti di media lain tidak mungkin melakukannya. Inilah bukti keseriusannya dalam hal pemberitaan.
Muncul lagi pertanyaan apakah Karni Ilyas berniat mencalonkan diri menjadi presiden tahun 2014? Kembali beliau menegaskan tidak ingin. Alasannya sederhana, supaya tidak menyimpang untuk sebuah pemberitaan. Beliau pernah ditawari sebagai jaksa agung atau Presdir Tambang Batubara pun ia tolak karena ingin tetap menjadi wartawan. Baginya, ILC adalah tempat di mana para pakar mengeluarkan ilmu mereka. Maka dari itu Karni Ilyas mencoba membangkitkan semangat mahasiswa untuk mencetak “Karni Ilyas-Karni Ilyas lainnya”.
Ia berpesan menjadi wartawan butuh kegigihan dan konsisten dalam mencari kebenaran. Bahkan beliau pernah membuat marah pimpinan intel Indonesia lantaran mampu menemukan narasumber kunci dalam kasus Kartika. Peserta diskusi dibuatnya terpukau dan bangga bahwa Indonesia masih memiliki anak bangsa seperti Karni Ilyas. Kami berharap diskusi ini tidak ada boncengan unsur pencitraan politik, murni untuk menebar khasanah keilmuan tentang bagaimana menjadi jurnalis yang gigih dalam mencari benang merah dalam kasus hukum di Indonesia. (Yuniva)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar