[Review Buku] Laut Bercerita: Sebuah Novel Karya Leila S. Chudori

 

Sumber: Dokumen pribadi

Leila Salikha Chudori atau dikenal sebagai Leila S. Chudori, penulis sekaligus wartawan kelahiran Jakarta, 12 Desember 1962 ini merupakan seorang wartawan senior majalah berita Tempo, editor buku, sekaligus penulis skenario beberapa drama yang ditayangkan di televisi. Beberapa kumpulan cerpen beliau yang telah diterbitkan yaitu Malam Terakhir, 9 dari Nadira, dan lain sebagainya. Selain menulis cerpen, beliau juga merilis beberapa novel berjudul Pulang pada tahun 2012 dan yang terbaru yaitu Laut Bercerita pada tahun 2017.

Bagi penyuka novel bergenre historical, tentu tidak asing mendengar judul novel ini, Laut Bercerita. Novel yang berlatar pada masa Orde Baru ini memiliki tebal sekitar 379 halaman. Novel ini terbit pertama kali pada Oktober 2017 dan sejak Februari 2022 ini, sudah mengalami cetak ulang yang ke-31. Novel ini mendapatkan penghargaan S.E.A Write Award 2020 yaitu penghargaan sastra Asia Tenggara yang digelar sejak tahun 1979 oleh Kerajaan Thailand.

Novel terbitan tahun 2017 ini mengusung beberapa tema seperti perjuangan, persahabatan, percintaan, keluarga, dan rasa kehilangan yang begitu dalam. Buku yang mengambil latar tahun 1990-an dan 2000-an ini mengajak para pembaca untuk mengenang dan menggali lebih dalam seputar era reformasi termasuk perjuangan para mahasiswa untuk membela rakyat kecil dan menegakkan keadilan di Indonesia. Novel ini mampu membius pembaca untuk mengenang betapa kejam dan mengerikannya peristiwa yang telah terjadi pada masa Orde Baru. 

Meskipun novel ini bergenre historical fiction, sang penulis bercerita bahwa novel ini terinspirasi dari mereka yang pernah diculik dan dihilangkan secara paksa pada zaman itu. Bahkan, untuk ide didalamnya, penulis melakukan riset selama kurang lebih lima tahun untuk mewawancarai korban yang berhasil kembali atau mewawancarai kerabat korban. Tidak hanya itu, Leila juga mengunjungi beberapa setting tempat yang menjadi inspirasi dari novel ini. Melihat itu semua, tak ayal novel ini mampu membuat pembaca ikut tenggelam di dalamnya dan merasa seakan-akan tokoh di dalamnya benar-benar hidup. Yang lebih menarik, novel ini juga dijadikan sebagai film pendek dengan judul yang sama yang dibintangi oleh aktor kenamaan Reza Rahadian sebagai Biru Laut serta Dian Sastrowardoyo sebagai Ratih Anjani. 

Sinopsis Novel Laut Bercerita

Laut Bercerita merupakan novel fiksi sejarah yang menceritakan mengenai perjuangan yang dilakukan Laut berserta kawan-kawannya pada masa Orde Baru guna membela rakyat dan menentang rezim Soeharto yang kokoh berdiri selama 30 tahun lamanya. Novel ini mengangkat isu mengenai kekejaman, penghilangan paksa, serta pengorbanan yang dialami oleh para aktivis pada waktu itu. Beberapa aktivis tersebut hingga kini masih belum juga diketahui keberadaanya.

Novel bersampul biru ini memiliki dua bagian. Bagian pertama mengambil sudut pandang Biru Laut Wibisana yang berkisah mengenai pejuangan para kawan-kawan Laut serta para aktivis untuk mencapai tujuan mereka untuk menentang rezim Orde Baru. Pada bagian kedua, sudut pandang yang diambil yaitu dari adik Biru Laut sendiri yang bernama Asmara Jati. Seorang gadis yang cerdas, rasional, dan realistis. Pada bagian kedua ini, Asmara menceritakan bagaimana memaknai perjuangan untuk menegakkan keadilan dan proses penerimaan kehilangan yang sesungguhnya.

***Warning (Mengandung Spoiler)

Bagian Pertama (Biru Laut)

Bagian pertama ini diceritakan oleh Biru Laut, seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada. Ketertarikan Laut di bidang sastra membut ia rajin mengoleksi buku-buku baik itu berbahasa Inggis ataupun Indonesia. Sampai akhirnya, ia mulai memfotokopi novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer yang pada saat itu dilarang peredarannya membuat ia bertemu dengan seorang Kasih Kinanti atau biasa dikenal dengan nama Kinan. Dari Kinan inilah Laut mulai mengenal tentang organisasi Winatra dan Wirasena. Semenjak bergabung dengan Winatra, Laut beserta kawan-kawannya mulai aktif berdiskusi entah itu perihal buku hingga berdiskusi mengenai visi mereka yang sama untuk meruntuhkan rezim yang berkuasa pada saat itu.

Perlu diingat, penceritaan Laut di novel ini tidak berurutan, tetapi berkesinambungan antara bagian satu dengan bagian lainnya. Seperti pada saat Laut mengalami penyiksaan dan kekerasan, kemudian ia menceritakan tentang perjuangannya menjadi seorang aktivis sebelum ditangkap. Tidak hanya itu, pada bagian pertama ini, Laut juga menceritakan betapa dekatnya ia dengan Anjani kekasihnya, Asmara sang adik, bapak, serta sang ibu. Laut juga menceritakan kenangannya akan aroma tengkleng buatan sang ibu serta suara musik klasik yang sering diputar sang bapak.

Aksi Blangguan merupakan salah satu aksi yang dilakukan Laut dan kawan-kawannya untuk membela serta menegakkan keadilan bagi para petani yang lahannya diambil paksa oleh pemerintah. Peristiwa itulah yang membuat Laut beserta kawan-kawannya menerima berbagai penyiksaan fisik yang begitu kejam.

Setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi, tapi apa pun yang kamu alami di Blangguan dan Bungurasih adalah sebuah langkah. Sebuah baris dalam puisimu. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu....- Kinan

Berbagai kegiatan yang  dilakukan oleh Winatra terus menerus diketahui oleh intel. Laut dan beberapa kawannya mencurigai Naratama sebagai dalang di balik itu semua. Pada akhirnya, di akhir cerita, terkuaklah siapa dalang yang sesunggguhnya.

Orang yang suatu hari berhianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu.

Di Bulan Maret 1998, Laut beserta kawan-kawannya satu per satu ditangkap dan diinterogasi. Mereka diperlakukan secara tidak manusiawi dan terus ditanya tentang siapa dalang utama di balik pergerakan mereka. Beberapa dari mereka dikembalikan dalam keadaan hidup dan beberapa lainnya tidak diketahui keberadaannya.

Bagian Kedua (Asmara Jati)

Pada bagian ini, sudut pandang cerita diambil dari adik Biru Laut yang bernama Asmara Jati. Penggambaran cerita bagian kedua ini menunjukkan kepedihan yang begitu mendalam. Bukan lagi tentang penyiksaan yang diterima oleh Laut serta para aktivis lain, tetapi rasa kehilangan, kesedihan, keputusasaan, dan ketidakpastian bercampur menjadi satu.

Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan.

Sudut pandang kedua ini menceritakan bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh keluarga Biru Laut, teman-teman Biru Laut, serta keluarga para aktivis yang belum ditemukan keberadaannya. Penggambaran keterpurukan dan rasa sakit begitu kental di bagian kedua ini. Asmara dihadapkan oleh orang-orang di sekitarnya yang satu persatu mengalami keterpurukan hingga menganggap bahwa Laut dan kawan-kawan lainnya baik-baik saja. Pada akhirnya, mereka saling menguatkan dan menghibur satu sama lain perihal ketidakpastiaan dari orang yang mereka kasihi. 

Di bagian kedua ini, ditunjukkan betapa kerasnya perjuangan Asmara beserta kerabat dari kawan-kawan Laut yang masih tidak diketahui keberadaannya untuk menggali lebih dalam di mana dan bagaimana keadaan mereka yang dihilangkan. Asmara beserta kawan lainnya berupaya dan terus menyampaikan tentang para aktivis yang dihilangkan tersebut kepada pemerintah agar pemerintah dapat menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Perjalanan yang dilakukan Asmara tidak berjalan dengan mudah karena minimnya jejak-jejak yang menunjukkan keberadaan Laut dan kawan-kawannya.

Mungkin aksi Payung Hitam setiap hari Kamis bukan sekadar sebuah gugatan, tetapi sekaligus sebuah terapi bagi kami dan warga negeri ini; sebuah peringatan bahwa kami tak akan membiarkan sebuah tindakan kekejian dibiarkan lewat tanpa hukuman. Payung Hitam akan terus-menerus berdiri di depan istana negara. Jika bukan presiden yang kini menjabat yang memberi perhatian, mungkiin yang berikutnya, atau yang berikutnya....

Buku ini sangat direkomendasikan untuk kamu yang tertarik dengan novel bertemakan historical. Banyak sekali nilai-nilai dan amanat yang terkandung dalam buku ini. Lewat buku ini, kita ditunjukkan bagaimana beratnya perjuangan para aktivis pada waktu itu untuk memperjuangkan keadilan maupun HAM. Selain itu, buku ini juga mengingatkan kembali kepada kita semua untuk jangan pernah melupakan sejarah bangsa kita sendiri. Semoga sejarah kelam dalam novel ini tidak akan terulang kembali. (Ana Syaharani)

No comments