Header Ads

ad

Masa Muda Mahasiswa, Depresi yang Menghantui

sumber: google.com
Menjadi mahasiswa adalah hal yang tidak bisa dipungkiri merupakan sesuatu yang membuat kita bertanya-tanya. “Mau jadi apa saya nanti? Bagaimana kehidupan saya kelak setelah lulus?” Kadang-kadang sebagai mahasiswa pertanyaan-pertanyaan sejenis itu menjadi semacam pelengkap existential crisis di malam hari, kecemasan menjelang ujian, ketakutan saat memulai hal baru, stress saat mendapat nilai kuis jelek, dan lain-lain. Ditambah keadaan homesick  bagi para mahasiswa yang merantau jauh dari rumah. Rasanya sepenggal lirik “All we are is dust in the wind” dari Kansas benar-benar terasa sekali.
Walaupun terkadang mengakunya tidak apa-apa sebenarnya kekhawatiran terhadap hal-hal kecil ini terus menumpuk. Menjadi lebih banyak yang dikhawatirkan, menjadi lebih banyak yang ditakuti, hingga berdampak kepada kehilangan fokus, lelah mental, lelah fisik dan jadi lebih susah bersosialisasi. Kemudian berujung kepada depresi.
Depresi pada mahasiswa juga erat kaitannya dengan penggunaan media sosial. Dalam penggunaannya, secara tidak langsung perbandingan-perbandingan antara kehidupan orang lain yang dilihat lebih baik dan kehidupan diri sendiri yang dirasa biasa-biasa saja, sering kali dibuat. Entah itu ketika melihat teman yang sudah lulus, teman yang lebih sukses, dan lain-lain.
Kalau sudah benar-benar merasa tidak nyaman dengan diri sendiri maupun orang lain, hal yang bisa dilakukan adalah berkonsultasi dengan psikolog, dosen, orang tua dan orang-orang yang dirasa bisa dipercaya. Namun, depresi tidak hanya jadi concern bagi orang yang mengalami depresi itu sendiri. Kita yang merasa sehat, juga harus memperhatikan keadaan teman-teman disekitar kita, dan sebisa mungkin menolong mereka. (Afifah)

No comments