Klik gambar untuk link pendaftaran !

[Review Buku] Aroma Karsa: Perburuan Aroma & Pencarian Jati Diri yang Sesungguhnya

Sumber: Dokumen pribadi

Biografi Penulis dan Buku

Dewi Lestari Simangunsong atau yang kerap disapa dengan Dee Lestari merupakan seorang penulis, penyanyi, sekaligus pencipta lagu. Dee lahir di Bandung pada tanggal 20 Januari 1976. Debut Dee di dunia kepenulisan mulai dikenal sejak bukunya yang berjudul Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh (KPBJ) rilis pada 2001. Serial Supernova ini pun berlanjut sampai 6 buku yang meliputi Akar (2002), Petir (2004), Partikel (2012), Gelombang (2014), dan Inteligensi Embun Pagi (2016). Selain serial Supernova, Dee juga telah menulis beberapa buku fenomenal lain seperti Filosofi Kopi (2006), Perahu Kertas (2009), dan Madre (2011). Tak hanya itu, beberapa karya Dee di atas juga telah diadaptasi ke layar lebar. Tak ayal, prestasi Dee di dunia kepenulisan pun telah diakui di kancah nasional maupun internasional.

Aroma Karsa merupakan novel Dee yang ke-12. Novel yang bergenre fiksi, romansa, misteri, dan fantasi ini sebelumnya sudah pernah tayang dalam versi digital yang diunggah di situs bookslife.co sehingga menghidupkan kembali cerita bersambung atau cerbung di era milenial seperti sekarang ini. Aroma Karsa telah menorehkan prestasi di ajang IKAPI Awards dalam acara pembukaan Indonesia Internatioal Book Fair (IIBF) 2018 yang diselenggarakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan dikategorikan sebagai Mega Bestseller Book of the Year.

Novel yang terbit pada tahun 2018 ini memiliki tebal sekitar 696 halaman dengan 61 bab di dalamnya. Novel yang memiliki dominasi cover bunga di depannya ini mengusung beberapa tema seperti petualangan, fantasi, mitologi, dan percintaan. Novel ini menceritakan petualangan untuk menemukan tanaman rahasia yang konon mampu mengendalikan kehendak dan hanya bisa diidentifikasi melalui aroma. Perjalanan dalam pencarian tanaman rahasia ini mengantarkan sang tokoh utama untuk menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya. Novel terbitan Bentang Pustaka ini juga mengusung beberapa mitologi Jawa Kuno seperti legenda Mahesa Guning, Kerajaan Majapahit, Gunung Lawu, dan Wong Banaspati yang tentunya akan menambah keunikan novel.

Riset yang dilakukan Dee dalam pembuatan novel ini tidak main-main. Dee melakukan riset selama kurang lebih 1 tahun serta dibarengi dengan proses menulisnya. Riset untuk Aroma Karsa mengantarkan Dee ke banyak tempat seperti survei langsung ke TPA Bantar Gebang, mendaki Gunung Lawu, serta ikut kursus meracik parfum di Singapura guna mengamati dan mengolah fakta menjadi fiksi.

Penulisan novel ini diawali dari kegemaran Dee dalam membaui aroma sejak kecil. Menurut Dee, aroma merupakan elemen fiksi yang jarang dieksplor oleh penulis karena dianggap menantang, abstrak, dan sulit untuk digarap. Alasan tersebut membuat Dee tertantang untuk membuat novel yang berpegang pada aroma.

Sinopsis Novel Aroma Karsa

Aroma Karsa merupakan novel bergenre fantasi yang menceritakan tentang petualangan Raras Prayagung untuk melakukan ekspedisi guna menemukan tanaman rahasia bernama Puspa Karsa. Obsesi Raras untuk memburu Puspa Karsa mengantarkannya dengan seorang Jati Wesi, si Hidung Tikus yang memiliki penciuman luar biasa yang tumbuh besar di TPA Bantar Gebang.

Kemampuan Jati untuk mencium bau serta meracik parfum mengantarkannya masuk dalam kehidupan Raras Prayagung dan mempertemukannya dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras yang memiliki kemampuan serupa dengan Jati.

Perjuangan Jati yang semakin terlibat dengan keluarga Prayagung mengantarkannya untuk menemukan misteri, jati diri, dan masa lalu miliknya yang sesungguhnya.

Review Novel

Walaupun novel ini begitu tebal, tetapi novel ini memiliki isi cerita yang sangat asyik dan seru untuk diikuti, penokohan yang kuat, alur dan latar yang apik, serta gaya bahasa yang indah sehingga membuat saya ingin terus menerus membuka halaman selanjutnya untuk mengetahui kelanjutan cerita.

Cerita novel ini begitu kompleks karena apa yang pertama kita bayangkan ternyata tidak se-simple itu. Banyak sekali plot twist di dalam novel ini. Hal-hal yang kita anggap bukan masalah yang besar, di novel ini akan menjadi sebaliknya.

Penokohan dalam novel ini juga sangat kuat. Raras – seorang ambisius, obsesif, dan pantang menyerah untuk menemukan Puspa Karsa. Jati Wesi – seorang pemuda sederhana yang memikat, ulet, pencium aroma yang ulung, dan berprinsip. Di sisi lain ada Tanaya Suma – gadis cantik, berpendidikan, pintar, dan ambisius. Tokoh-tokoh lain di dalam novel ini juga memiliki karakternya masing-masing yang begitu khas sehingga membuat cerita ini menjadi semakin pas, seperti Anung Linglung, Nurdin Suroso, Arya Jayadi, Khalil Batarfi, Jindra, dan lain sebagainya.

Novel ini memiliki alur campuran, tetapi pada banyak bab memiliki alur maju. Alur dalam novel ini juga tidak membingungkan karena sudah memiliki pola sehingga membuat cerita menjadi lebih seru.

Gaya bahasa yang digunakan Dee di dalam novel ini sangatlah indah. Beberapa bagian juga terdapat bahasa Jawa Kuno yang makin menambah keindahan bahasa di novel ini. Selain itu, pemilihan kata di dalam novel ini juga sangat apik sehingga membuat pembaca semakin bersemangat untuk menuntaskan bacaan.

Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Dunia ini sesungguhnya dunia aroma.
Tan wenang kinawruhan ng katrsnan, wenang rinasan ri manah juga, (Asmara tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya).
Lebih baik hidup singkat penuh cinta ketimbang terpenjara. 

Selain gaya bahasa yang indah, novel ini juga menyajikan beberapa bahasa ilmiah yang tentunya akan menambah wawasan kita mengenai anggrek dan parfum. 

Di sisi lain, bahasa yang digunakan Dee untuk menggambarkan aroma di novel ini juga begitu magis dan ciamik sehingga membuat pembaca seakan ikut mampu merasakan dan membaui apa yang dideskripsikan oleh Dee di novel ini.

CONDRA. Sengatan limau memagut sekejap hanya untuk menggoda. Barulah malam memamerkan kekuatan yang tidak dimiliki siang, hasutan bulan mampu membujuk sedap malam membelah jantungnya sendiri untuk disesap para pecandu cinta. Kelopak-kelopak melati di sekitarnya ikut terpesona, memberi segenap nyawa dengan sukarela. Usai sari pati bunga-bunga putih dicerna kerlip bintang dan kunang-kunang hadirlah getah boswelia yang bijak dan diam, menemani bulan hingga lelap di peraduan.

Selain itu, banyak mitologi serta klenik yang diangkat di dalam novel ini seperti cerita wingitnya Gunung Lawu, kisah Mahesa Guning, Wong Banaspati, dan kisah Dwarapala. Cerita mitologi tersebut diramu dengan sangat apik sehingga membuat saya menjadi bertanya-tanya apakah mitologi ini benar-benar nyata adanya. Selain itu, penceritaan mengenai desa asing di lereng Gunung Lawu ini juga menambah keunikan cerita. Penceritaan tentang adanya desa yang tak terjamah oleh manusia, yang tidak semua orang mampu melihatnya membuat pembaca merasakan petualangan asing di dunia lain yang menantang sekaligus tidak terbayangkan. 

Finally, novel ini sangat saya rekomendasikan kepada pembaca sekalian untuk mengisi waktu luang. Bagi kalian yang menyukai buku mengenai fantasi sekaligus petualangan yang seru, buku ini cocok untuk kalian. Meskipun buku ini sangat tebal, tetapi gaya bahasa dan penceritaan yang apik membuat buku ini tidak membosankan. (Ana Syaharani)

No comments