A ROUGH SKETCH

sumber : dokumentasi pribadi

Siang itu motornya terparkir dengan rapi di bawah pohon yang teduh. Lelaki berkemeja hitam itu berjalan menyusuri koridor gedung perkuliahan setelah melepaskan helmnya. Matanya melihat lurus ke depan, sesekali mengangguk untuk membalas sapaan orang-orang yang mengenalnya.

Setiap mata tertuju padanya saat melewati koridor, melihatnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada yang melihat dengan ramah, melihat dengan kekaguman, melihat sambil tersipu malu, dan ada yang melihat dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

Saat dirinya sampai di lantai ketiga gedung perkuliahan, dia melihat teman-teman sekelasnya masih menunggu di luar kelas. Melihat ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit. Seharusnya perkuliahan periode kedua selesai lima menit yang lalu.

Baru saja dia selesai memikirkannya, penghuni kelas periode dua keluar satu per satu. Menunggu hingga kelas cukup sepi, atau paling tidak dia tidak harus berdesakan di ambang pintu, dia bersandar pada dinding. Setelah dirasa cukup sepi, dia kemudian masuk ke dalam kelas.

Dia menuju ke sisi kiri ruang kelas di dekat jendela. Sebelum duduk, lelaki berkemeja hitam itu menemukan sebuah binder berwarna salmon yang tergeletak di kursi. Tangannya meraih binder itu sebelum kemudian duduk di kursi. Dia kemudian menunjukkan barang yang ditemukannya pada temannya.

“Ada binder ketinggalan ini,” ucapnya.

Temannya yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu baru saja mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dosen saat itu belum datang, katanya akan terlambat beberapa menit.

“Oh! Bentar gue tanyain ke grup angkatan,” kata temannya.

Menunggu seseorang menjawab di grup angkatan yang berisi ratusan akun itu akan memerlukan waktu yang lama. Akhirnya dengan keputusannya sendiri dia membuka binder itu. Dengan harapan ada identitas yang ditinggalkan oleh pemilik binder di dalamnya.

Beberapa lembar pertama hanya berisi catatan kuliah dengan tulisan yang sedikit berantakan namun masih bisa terbaca. Di lembar berikutnya dia masih belum menemukan identitas si pemilik binder.

Pada lembar berikutnya setelah pembatas, dia melihat sebuah sketsa tangan. Matanya sedikit takjub melihat goresan pensil yang ada di atas kertas itu. Di setiap sketsanya si pemilik selalu meninggalkan tanggal dan tanda tangan di sudut kertas.

Pada lembar yang saat ini terekspos olehnya dia dibuat lebih takjub dan terpukau. Berbeda dari gambar sebelumnya, di mana dia tidak bisa mengenali sketsa tangan siapa yang digambar oleh si pemilik binder, dia bisa mengenali sketsa yang satu ini. Karena sketsa kali ini bukan hanya sketsa tangan, tapi sketsa seorang lelaki yang tengah memetik gitar dengan ekspresi yang datar.

Itu dirinya, dirinya saat sedang memetik gitar di gazebo fakultas dengan teman-temannya kemarin. Saat membalik halamannya, lelaki itu menemukan dua baris kalimat yang ditulis di sisi kiri atas kertas.

Setelah membacanya lelaki itu menyunggingkan seulas senyum. Tangannya beralih mencari pensil dari dalam tasnya. Setelah mendapatkannya, dia menuliskan beberapa kata di bawah dua baris kalimat yang ditemukannya.

“Yang punya anak kelas B—heh! Kata yang punya jangan dibuka!” seru temannya.

Dengan wajah datarnya, si pemuda berkemeja hitam itu membalas dengan ringan, “Telat ngomongnya.”

Dosen baru saja masuk ke dalam kelas. Lelaki itu menutup kembali binder itu kemudian menyimpannya di bawah buku modul yang dibawanya. Dia berpikir si pemilik binder akan kembali setelah temannya memberitahunya siapa pemilik binder itu. Namun ternyata tidak. Mungkin si pemilik binder akan datang mengambilnya setelah perkuliahan ini usai.

Perkuliahan berlangsung seperti biasa. Sesekali lelaki berkemeja hita itu mencatat dengan mencorat-coret modulnya. Waktu bergulir begitu cepat, satu jam empat puluh menit telah berlalu.

“Yang punya mau kesini nih,” ujar temannya.

“Ya,” sahutnya singkat

Sepuluh menit menunggu, seorang perempuan menampakkan kepalanya di ambang pintu memanggil nama teman si kemeja hitam. Lelaki berkemeja hitam itu bangkit dengan membawa binder berwarna salmon di tangannya.

Perempuan di hadapannya melihatnya dengan canggung. Dia menyerahkan binder itu ke tangan si pemilik. Setelah menerima bindernya kembali, perempuan itu berterima kasih padanya.

“Maaf sebelumnya,” ungkap si lelaki berkemeja hitam.

Perempuan itu nampak kebingungan. Namun kebingungannya lantas tergantikan dengan keterkejutan. Sebuah fenomena langka; lelaki itu tersenyum padanya.

“Nice sketch, onee-san,” puji si lelaki.

Perempuan itu berlari sekuat tenaga, tak memedulikan pandangan mata orang yang tertuju padanya. Buru-buru dia buka bindernya pada halaman sketsa yang dibuatnya kemarin, dia melihat tulisan tangan yang asing.

He always have that cool and composed demeanor. I wonder what kind of expression he will make when he falls in love.

He falls in love when you sketch him. 
(Lintang Kemuning MR)

No comments