Header Ads

ad

Ketika Mahasiswa Terkepung Peminatan

Photo : Edited by Amel
Sejak dua tahun belakangan ini, mekanisme pemilihan peminatan di Fakultas Kesehatan Masyarakat banyak mengundang berbagai reaksi dari berbagai kalangan. Sistem pemilihan yang menggunakan cara “cepet-cepetan” dinilai terlalu merugikan mahasiswa, karena mereka harus bersaing dengan mahasiswa lainnya untuk bisa masuk peminatan. “Modal” utamanya hanya kecepatan internet dan kecepatan tangan dalam menginput.
Memang sudah ada seleksi nilai pada mata kuliah tertentu sebelumnya. Namun banyaknya mahasiswa yang lulus pada seleksi nilai tersebut, membuat seleksi nilai tidak terlalu banyak membantu dalam pemberian solusi terhadap minat mahasiswa pada peminatan tertentu. Alhasil banyak mahasiswa menjadi korban karena terpaksa masuk ke peminatan yang sebenarnya belum diminati akibat kalah dalam adu cepat menginput.
Aktivis kampus, para komting dan segenap mahasiswa lainnya merupakan kelompok yang peduli terhadap persoalan peminatan ini. Banyak cara yang sudah dilakukan; yaitu, penulisan di papan aspirasi,
penulisan opini di media kampus, pendataan minat peminatan mahasiswa, gerakan di dunia maya melalui media sosial, konsolidasi akbar, bahkan advokasi langsung dengan bagian peminatan, bagian akademik dan pembantu dekan. Langkah-langkah tersebut terus dilakukan oleh mahasiswa agar didapat solusi terbaik untuk kebaikan bersama. Harapannya setelah pemilihan peminatan nanti, tidak ada lagi air mata yang terjatuh, harapan yang runtuh dan jiwa-jiwa yang berkeluh akibat tidak masuk ke peminatan yang diinginkan.
Pada tahun 2013 ini, sistem pemilihan peminatan di FKM Undip tidak lagi memakai sistem “cepet-cepetan”. Pada proses pemilihan nanti, mahasiswa akan diseleksi melalui 3 tahap. Yaitu seleksi nilai mata kuliah peminatan bersangkutan, seleksi melalui IPK dan seleksi dengan wawancara.
Sistem pemilihan ini dinilai sudah cukup baik karena dilakukan dengan prosedur yang tidak asal-asalan dan mekanisme yang indikatornya jelas. Patut kita tunggu, apakah sistem ini dapat menjawab dan menjadi solusi akan persoalan peminatan yang turun-temurun atau tidak. Akan tetapi, kebijakan ini akan menjadi lebih baik lagi jika didukung dengan jumlah kuota per peminatan yang memenuhi kebutuhan mahasiswa yang meminatinya. (Arief Satiawan, Wakil Pimpinan Umum LPM Publica Health)

No comments