Tips Mengendalikan Emosi di Saat Pandemi

(sumber : google)

        Pada awal tahun 2020, pandemi COVID-19 menyerang seluruh dunia. Kondisi pandemi yang penuh dengan ketidakpastian tentunya membuat kita stres. Ada banyak ketakutan hidup yang kita pikirkan, mulai dari kekhawatiran terkena covid, pekerjaan, dan kelanjutan hidup ke depannya. Kita tidak tau kapan pandemi ini akan berakhir. Kita tidak bisa berpergian ke luar rumah untuk refreshing, yang bisa kita lakukan hanya berselancar di internet untuk mencari hiburan. Semenjak pandemi COVID-19 menyerang, internet semakin digemari oleh banyak orang. Media sosial seperti facebook, instagram, youtube, dan twitter mulai ramai pengunjung. Informasi yang bertebaran di dunia maya pun beragam, mulai dari topik mengenai kesehatan, ekonomi, masak-memasak, dan kehidupan. Akan tetapi, kita tidak tau apakah informasi tersebut benar atau salah (hoax). 

        Pada pertengahan April 2020, Kominfo telah mendeteksi adanya 500 berita hoax selama pandemi. Berita-berita tersebut antara lain ialah tidak percaya adanya covid, teori konspirasi mengenai covid, dan rumah sakit yang memasulkan hasil pemeriksaan pasien agar mendapat uang dari pemerintah. Selain itu, hal yang membuat suasana semakin keruh adalah komentar negatif dan perdebatan tiada akhir antara netizen maupun buzzer. Setiap orang mempunyai pendapatnya masingmasing dan tidak ada yang mau mengalah. Walaupun tidak ikut berkomentar, membaca berita dan pedebatan antara netizen tersebut cukup menguras energi. Secara tidak sadar, kita begitu banyak menerima informasi. Hal ini dapat berpengaruh pada kesehatan mental. Kondisi pandemi sudah membuat kita khawatir setiap saat, ditambah dengan konten-konten yang kita baca di internet. Perasaan cemas, panik, dan overthinking sering kita rasakan. Apabila dibiarkan secara terus-menerus, hal ini akan berkembang menjadi depresi dan kesehatan mental menjadi terganggu. Oleh karena itu, kita harus menjaga emosi dan kesehatan mental di tengah pandemi. 

        Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan gangguan mental di tengah pandemi adalah membatasi penggunaan media sosial. Sebagai contoh kita hanya boleh membuka media sosial di jam-jam tertentu, misalnya pada pukul 12.00-13.00 dan 19.00-20.00. Lalu kita juga harus memfilter orang-orang yang kita follow. Beberapa orang mungkin terkesan provokatif terhadap suatu isu, mereka suka sekali berkomentar pada setiap berita yang baru mereka baca tanpa mengkonfirmasi apakah hal tersebut benar atau salah. Mungkin kita harus menghindari orang yang seperti ini. Kita bisa block atau mute orang-orang seperti itu. 

        Hal lain yang dapat dilakukan adalah journaling. Daripada membuka internet yang membuat kita semakin pusing, menulis bisa menjadi opsi mengisi waktu luang. Journaling adalah menulis kegiatan dan perasaan yang sudah kita lalui selama seharian penuh. Journaling bisa membantu kita mengeluarkan emosi dalam diri. Apabila kita sungkan untuk bercerita ke orang lain, journaling bisa menjadi solusi untuk sarana bercerita. Kemudian kita juga bisa menulis di worksheet “Though Record Sheet-7 Column”. Worksheet ini berfungsi untuk mengatasi perasaan negatif yang muncul pada diri sendiri. Apabila kita merasa insecure atau tiba-tiba berada di situasi yang membuat tidak percaya diri, kita bisa menulis di worksheet tersebut. Tujuannya adalah agar kita bisa mengendalikan perasaan negatif yang dirasakan. Kemudian hal yang dapat membuat hari-hari menjadi lebih produktif adalah membuat to-do-list. Setiap pagi setelah bangun tidur, ada baiknya kita menuliskan 3 hal yang ingin kita selesaikan di hari itu. Hal ini dapat membuat kita fokus pada kegiatan bermanfaat dan mengurangi waktu luang untuk berpikir negatif. 

        Menjaga kesehatan mental di tengah pandemi sangatlah penting karena selain menjaga kesehatan fisik, kesehatan psikis harus tetap kita perhatikan. Membatasi media sosial, membuat journaling, menulis di “Though Record Sheet-7 Column”, dan to do list bisa menjadi bentuk pengendalian terhadap gangguan mental yang melanda diri kita. Apabila kita mengalami gangguan mental yang sudah sangat parah seperti menyakiti diri sendiri atau adanya keinginan untuk bunuh diri, maka ada baiknya untuk cepat meminta bantuan dengan cara menghubungi professional (psikolog atau psikiater). Akhir kata, semoga kita semua dilindungi Allah dan diberi kesehatan secara fisik maupun psikis serta pandemi ini cepat berakhir. (Hasna Nisrina Sumayyah, Universitas Indonesia)

No comments