Siapa Diri Kita, di Era Digital?

Berita HOAX 
Di era digital ini, teknologi semakin berkembang cepat khususnya dalam teknologi komunikasi. Tentunya teknologi komunikasi semakin canggih dan dipermudah dalam mengakses sebuah berita atau tukar menukar kabar. Tanpa kita sadari, dalam kehidupan setiap manusia akan ada isu-isu yang tersebar baik secara online maupun secara offline. Berita HOAX atau berita palsu terkadang membuat para pembaca atau pendengar ikut tersulut dalam berita yang belum pasti akan kebenarannya. Secara psikologis, berita HOAX timbul untuk memanfaatkan suatu situasi kondisi yang dapat digambarkan dengan seseorang yang mengalami ketakutan jangka panjang dan akan berdampak pada kesehatan mental.
                                            


Gangguan Mental
Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata ‘gangguan mental’? Menurut saya, gangguan mental dapat dikatakan sebagai suatu kondisi dimana seseorang yang kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal. Di berbagai negara, seseorang yang mengalami gangguan mental kerap mendapatkan perlakuan yang berbeda atau perlakuan yang kurang menyenangkan. Sebenarnya seseorang yang mengalami gangguan mental belum tentu dapat disebut sebagai ‘orang gila’, hanya saja stigma negatif masyarakat yang sudah melekat dalam mengartikan kata gangguan mental. Stigma negatif masyarakat ini dapat berdampak bagi penderita gangguan mental lebih merasa tertekan dan menambah rasa ketakutan berjangka panjang.

Penyebab Gangguan Mental
Di setiap terjadinya suatu keadaan atau kondisi pasti akan ada yang namanya penyebab. Penyebab biasanya menjelaskan bagaimana hal tersebut terjadi. Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa penyebab atau faktor yang menimbulkan gangguan mental, yaitu faktor biologis dan faktor psikologis. 

Faktor biologis biasanya terjadi akibat kurang berfungsinya sel saraf pada otak atau memiliki kelainan bawaan, sedangkan faktor psikologis biasanya terjadi akibat adanya pengalaman buruk sehingga memicu trauma terhadap penderita gangguan mental. Namun, ada faktor lain yang dapat menyebabkan gangguan mental, yaitu faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang positif sangat berpengaruh bagi pembentukan karakter manusia dan juga kesehatan mental. Tentunya, dalam hal seperti ini kita sebagai manusia juga harus berani dalam membentuk karakter kepribadian diikuti dengan alur lingkungan.


Di sisi lain, gangguan mental juga dapat terjadi karena faktor dari seseorang itu sendiri. Mengapa? karena sering kali setiap individu kurang terbuka terhadap yang lain dan mengakibatkan perasaan yang terus terpendam. Pada umunya, seseorang beranggapan bahwa gangguan mental tidak membutuhkan penanganan yang serius.

Upaya Pengendalian Gangguan Mental
Pada dasarnya setiap manusia akan mengalami gangguan mental bila ada tekanan dari lingkungan sekitar dalam bersosialisasi ataupun dalam berinteraksi melalui media sosial. Tentunya ada proses pengendalian yang dapat dijalani bagi orang yang mengalami gangguan mental. Pengendalian ini sangat penting karena dianggap sebagai suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar Kesehatan.

Sebelum melakukan pengendalian secara dalam, ketahuilah terlebih dahulu siapa diri kita dan bagaiana keadaan diri kita. Hal ini dapat dilakukan dengan memahami karakter kuat yang kita miliki serta memposisikan diri kita sesuai dengan kinerja saraf otak. Bagaimana membentuk karakter yang baik? Peran keluarga merupakan kunci utama dalam pembentukan karakter setiap orang. Karakter yang terbentuk sesuai dengan lingkungan keluarga akan terbawa hingga seseorang tersebut menjadi manusia yang mandiri 

Melakukan perubahan pola pikir juga menjadi salah satu cara pengendalian terhadap gangguan mental. Perubahan pola pikir ini dilakukan dengan sebutan terapi perilaku kognitif. Dengan adanya perubahan ini, seseorang akan lebih berpikir secara rasional. Memilih berita-berita yang sesuai dengan kenyataan dan tidak menanggapin berita- berita HOAX.

Dianjurkan bagi para pembaca untuk tetap aktif berpartisipasi dalam organisasi untuk membangun cara berpikir dan cara bersosialisasi yang sehat. (Ignasia Irene, Universitas Prasetiya Mulya – International Business Law 2019)




2 comments: