Seputar Hoaks di Masa Pandemi

 Sumber : Google

Media sosial telah menjadi salah satu tempat untuk bertukar informasi yang paling cepat. Sayangnya, kecepatan ini tidak diiringi oleh standarisasi informasi yang disebarkan. Setiap orang bisa menjadi sumber informasi, baik dia berkompeten di bidangnya maupun tidak. Akibatnya, banyak hoaks yang tersebar, terutama dalam bidang politik, kesehatan, dan ekonomi.

Penggunaan media sosial di masa pandemi meningkat pesat, menurut survei yang dilaksanakan oleh Konsultan Kantar intensitas penggunaan Whatsapp, Facebook, Messenger, dan Instagram pada awal pandemi hingga akhir Maret melonjak sekitar 40% (Burhan, 2020). Hal ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan informasi yang tinggi mengenai virus baru yang belum pernah ditangani oleh seluruh warga dunia, kemudian mendorong masyarakat untuk senantiasa up to date terhadap perkembangan kasus dan penanganan COVID-19 yang dilakukan di berbagai negara.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) sampai dengan tanggal 5 Mei terdapat 1401 hoaks yang terkait dengan COVID-19 (Yusuf, 2020). Hoaks ini sangat  vital dalam mempergaruhi  ef ektivitas  kebijakan pemerintah dalam menangani COVID-19, penyampaian informasi yang salah akan memengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi.

Seperti kasus di mana seorang ibu rumah tangga membuat pernyataan dalam postingan facebooknya bahwa di Lampung sudah ada pasien positif COVID-19 yang berasal dari Malaysia (Ramdhani, 2020). Sedangkan setelah diklarifikasi oleh pihak yang bersangkutan dugaan tersebut tidak dapat dibuktikan. Bila dicermati sebenarnya orang-orang yang menyebarkan hoaks ini juga bisa jadi merupakan orang yang termakan hoaks karena ikut menyebarkan. Penyebar hoaks tersebut dilaporkan ke polisi karena sudah memicu keresahan warga. Karakteristik hoaks memang dibuat agar dapat memengaruhi para pembaca untuk membangkitkan emosi, harapan, atau justru memicu terjadinya depresi dan kepanikan.

Pengaruh Hoaks terhadap Kesehatan Mental

Hoaks menurut kamus Merriam-Webster adalah suatu aksi untuk mempengaruhi seseorang untuk mempercayai atau menerima suatu inf ormasi yang salah. Dalam konteks pandemi, pencampuran informasi antara opini, fakta, rumor, dan lain-lain yang sangat masif dan intensif disebut dengan infodemi. Asal katanya dari gabungan information dan epidemic, yang pertama kali digunakan oleh David Rothkopf di Washington Collumn pada tahun 2003 saat membicarakan mengenai virus SARS.

Karakteristik berita hoaks yang mengandung permainan emosional seseorang, atau  bahkan sering  kali memanf aatkan perasaan ketakutan dan kecemasan yang berlebihan, apalagi jika terpapar dalam jangka waktu yang cukup lama. Meskipun respon yang terjadi tidak secara langsung, namun dampaknya jika tidak disadari bisa berkepanjangan. Infodemi, informasi tentang COVID-19 yang berlebihan dapat memicu munculnya rasa takut dan cemas yang berlebihan.

Gangguan Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Gangguan kesehatan mental ini dinamakan anxiety disorder atau gangguan kecemasan, yaitu adalah rasa cemas, khawatir, atau takut yang muncul secara berlebihan dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Penyebabnya ada karena genetik, memiliki riwayat trauma di masa lalu, aktivitas otak yang berlebihan, ketidakseimbangan zat kimia yang digunakan untuk emosi dan perilaku.

Menurut Kemenkes RI kalangan yang rawan untuk terkena gangguan kesehatan mental di masa pandemi adalah  anak,  remaja,  dan  perempuan yaitu sekitar 27%. Terkait dengan pandemi, contoh gangguan kecemasannya adalah fenomena panic buying. Ketika di masa awal covid masuk ke Indonesia, supermarket, dan toko-toko bahan pangan utama mengalami gelombang pembelanjaan besar-besaran, termasuk juga berbagai alat terkait dengan kesehatan, seperti masker, sarung tangan lateks, dan lain-lain. Hal ini terjadi karena adanya kekhawatiran atau ketakutan terhadap kekurangan pangan, serta pengaruh pemberitaan media bahwasannya covid ini lebih ganas daripada virus influenza.

     Kasus lain, seperti seorang tenaga kesehatan yang mengalami intimidasi secara verbal dari penduduk di sekitar indekosnya karena diduga menjadi sumber penyebar Covid-19. Selain itu, ada kasus warga sebuah desa di Jawa Tengah yang melarang seorang warga asli disana yang meninggal karena terinfeksi covid pasca berjuang sebagai tenaga kesehatan. Padahal tenaga kesehatan pasti paham betul mengenai penerapan protokol kesehatan.

Dengan demikian, kesimpangsiuran informasi terkait pandemi memicu terjadinya kekhawatiran yang tak berujung. Semakin hari, jumlah kasus justru semakin naik, per tanggal 27 September mencapai 2 75 ribu kasus. Karena kita juga tidak tahu kapan wabah ini selesai, maka yang dapat kita lakukan adalah mengubah respon kita terhadap berbagai peristiwa di sekitar kita. (Nur Rahmatul Azizah)

 

Referensi

https://www.merriam-webster.com/words-at-play/words-were-watching-infodemic-meaning

Ramdhani, J. (2020). Sebar Hoax Corona Masuk Lampung Perempuan Muda Ditangkap. Diakses melalui https://news.detik.com/berita/d-4942274/sebar-hoax-corona-masuk-lampung-perempuan-muda-ditangkap pada 27 September 2020

Burhan, F.A. (2020). Penggunaan Whatsapp dan Instagram Melonjak 40% Selama Pandemi. Diakses melalui https://katadata.co.id/febrinaiskana/digital/5e9a41f84eb85/penggunaan -whatsapp-dan-instagram-melonjak-40-selama-pandemi-corona pada 27 September 2020

No comments