Perspektif Berita Hoax Terhadap Kesehatan Mental

(sumber : google)

        Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi akibat perkembangan zaman membuat setiap orang semakin mudah menyebarkan dan menerima informasi. Sayangnya tidak semua informasi atau berita dapat dipertanggungjawabkan akan kebenarannya, sehingga informasi atau berita tersebut dinyatakan sebagai berita hoax. Berdasarkan penelitian dari Mastel (2017), penyebaran berita hoax terbanyak sebesar 90,40% terjadi di media sosial. Sebab media sosial menyajikan platform-platform menarik sebagai media komunikasi yang sangat disukai masyarakat terutama generasi milenial. Terkait hal tersebut banyak ribuan akun media sosial yang terdeteksi telah disalahgunakan dalam menyebarkan kebohongan, penipuan bahkan ancaman. Sehingga sangat diperlukan kecerdasan masyarakat terutama generasi milenial dalam memfilter semua informasi yang diterima. 

        Menurut American Psychological Association (APA), generasi milenial cenderung mengalami gangguan kecemasan dan stres berlebih ketika menerima berita hoax. Hal tersebut terjadi karena generasi milenial mudah menerima banyak tekanan serta kurang mampu mengolah berita hoax yang beredar. Gangguan kecemasan dan stres merupakan bentuk gangguan kesehatan mental. Seseorang dianggap memiliki gangguan kesehatan mental apabila terjadi suatu perubahan emosi yang negatif, kelainan tingkah laku dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, setiap orang diharapkan lebih selektif dalam menyimpulkan informasi yang diterima dan mampu mengendalikan diri tanpa harus mengganggu kondisi kesehatannya. 

        Banyak cara yang dapat dilakukan dalam mengendalikan kesehatan mental dari berita hoax yaitu pertama, biasakan bersikap skeptis atau tidak mudah percaya terhadap suatu berita. Dengan sikap ini maka seseorang cenderung mengecek kebenaran sumber berita sebelum mempercayainya. Kedua, bertanya kepada ahlinya. Mempertanyakan fakta berita dapat dilakukan kepada ahli hukum, institusi resmi seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan lembaga lainnya. Selain itu, setiap orang juga dapat memanfaatkan situs-situs resmi di internet untuk menelusuri kebenaran suatu berita yang beredar.

        Ketiga, pahami cara menilai berita. Berita dikatakan hoax apabila memiliki judul yang provokatif dengan merujuk langsung ke pihak tertentu. Cermati alamat situs berita apakah sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi atau tidak. Jangan lupa perhatikan waktu terbitnya, karena terdapat banyak berita yang sudah tidak relevan tetapi masih dipublikasikan. Kemudian perhatikan bukti fotonya, karena pembuat berita hoax seringkali memanipulasi foto untuk memprovokasi pembacanya. Waspada juga terhadap forward messages. Forward messages merupakan fitur dari media sosial sebagai tempat meneruskan pesan yang diterima kepada orang lain. Pesan yang diteruskan seringkali berisi berita hoax yang disertai dengan ancaman apabila tidak meneruskan pesan tersebut. Apabila menerima pesan tersebut lebih baik untuk menghapusnya dan mengabaikannya.

        Menurut psikiater, apabila seseorang sulit memahami kebenaran suatu berita di berbagai media dapat dinyatakan seseorang tersebut mengalami gangguan kesehatan mental. Bukan hanya itu, sulitnya memahami kebenaran suatu berita akan membuat masyarakat mengalami distrust society. Distrust society melahirkan masyarakat yang tuna kepercayaan sehingga pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk dijadikan peluang terjadinya perpecahan dan permusuhan. 

        Keempat, tunjukan keberanian dengan melakukan aksi apabila menerima berita hoax. Membuat petisi, membagikan tanggapan disertai fakta berita pada media sosial, dan melaporkan berita hoax pada lembaga yang berwenang merupakan cara efektif untuk melawan berita hoax yang beredar. Hal ini juga bermanfaat untuk mengubah perasaan seseorang menjadi lebih positif sehingga dapat mengendalikan kondisi kesehatan mentalnya. Kelima, dapatkan Psychological First Aid (PFA) dari orang lain. PFA merupakan pertolongan dasar yang dapat dilakukan oleh orang awam untuk membantu orang-orang yang mengalami masalah psikis. Bantuan PFA dapat menjadi tindakan efektif untuk mengendalikan gangguan psikis seseorang sehingga tidak menjadi lebih berat. 

        Dengan ini, mari bersatu melawan berita hoax dengan tetap berpikir positif dan kritis. Berikan informasi atau berita yang kredibel untuk masyarakat, bukan menjadi perusak kredibilitas bangsa Indonesia. Kontribusimu sangat dibutuhkan untuk saling mendukung dan mengingatkan antar sesama agar lebih selektif dalam menghadapi arus bebas informasi (free flow information). Jadikan dirimu sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial masyarakat untuk membantu Indonesia menjadi negara yang lebih sejahtera. (Chyntia Nur Aviva Hidayat, Universitas Diponegoro)

Referensi

Febyani, Sarah. “Kecemasan Terhadap Berita Hoax Ditinjau dari Strategi Emosi pada Millennial Mom,” Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi, 4(1), 2015. 

Juditha, Christiany. “Interaksi Komunikasi Hoax di Media Sosial serta Antisipasinya,” Jurnal Pekommas, 3(1), 2018. 

Yunita. Ini Cara Mengatasi Berita Hoax di Dunia Maya. Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2017.

7 comments:

  1. Artikel nya bagus. Tingkatkn ya ;)

    ReplyDelete
  2. A useful information.. Thanks a lot

    ReplyDelete
  3. It's useful information.. Thanks a lot

    ReplyDelete
  4. Informasinya sangat membantuu dan perlu banget untuk kita aplikasikan, good job

    ReplyDelete
  5. Lawan hoax dengan melihat n mendengar yg kita perlukan aj...

    ReplyDelete
  6. Mantap, sangat mengedukasi kaum milenial untuk lebih terbuka pikirannya terhadap apa yang mereka terima. Semangat terus ka penuliss

    ReplyDelete