Peran Orangtua Ditengah Pesatnya Perkembangan Sosial Media dalam Membentuk Karakter Remaja

(sumber : google)

        Perkembangan teknologi dan informasi di era globalisasi mengalami perkembangan pesat. Adanya internet mempermudah berbagai kegiatan manusia. Seperti melakukan interaksi sosial, mengakses segala informasi dari berbagai sumber dan sebagai sarana hiburan seperti penggunaan sosial media. Pengguna internet datang dari berbagai kalangan dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.Berdasarkan data yang dikeluarkan Departemen Komunikasi dan Informasi pada tahun 2013, pengguna internet didominasi oleh remaja yang mayoritas bersosial media dengan angka menyentuh 95%. Remaja biasanya menggunakan sosial media untuk berkomunikasi, berbagi cerita melalui postingan dan saling bertukar komentar dengan teman. 

        Tingginya intensitas terhadap penggunaan sosial media dapat menyebabkan adiksi. Adiksi yakni keadaan ketika seseorang merasa ketergantungan terhadap benda,,hal, atau kegiatan, baik secara mental maupun fisik. Sesuatu yang dilakukan secara ketergantungan terutama sosial media dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Diantarannya dapat mengakibatkan gangguan kecemasan, mood, kepribadian narsistik, harga diri rendah dan berkurangnya rasa empati. Gangguan kecemasan terutama kecemasan sosial terjadi ketika seseorang cenderung untuk menghindari berhubungan di dunia nyata dan memilih sosial media sebagai media berinteraksi. Hal ini dikarenakam remaja cenderung lebih suka berinteraksi dengan teman daripada dengan orang tua. Remaja yang memiliki kecenderungan terhadap media sosial yang cukup tinggi dapat menimbulkan sikap asosial pada masyarakat. Sikap tersebut muncul ketika seseorang memilih bermain sosial media daripada berinteraksi dengan orang sekitar di tengah keramaian. Hal ini akan berdampak akan menurunnya kemampuan interaksi sosial dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya.

         Sebagai unit sosial terdekat anak, orang tua memiliki pengaruh besar dalam proses perkembangan mental anak. Penerapan pola asuh yang tepat dapat membentuk karakter anak yang berpengaruh terhadap sikap, cara berpikir, maupun berperilaku. Karakteristik pola asuh yang ideal diterapkan yakni pola asuh authoritative (demokrasi) dengan meningkatkan komunikasi dan pendampingan terhadap anak. Orang tua dapat memberikan aturan yang rasional dan realistis namun tetap mempertimbangkan kebutuhan anak. Orang tua berperan penting sebagai “gatekeeper”yang memfasilitasi namun membatasi akses terhadap penggunaan teknologi digital termasuk sosial media. Implementasi pola asuh authoritative yang dapat diterapkan terhadap anak terkait penggunaan sosial media sebagai berikut :

a) Berkomunikasi dengan anak untuk menciptakan hubungan yang baik, 
b) Membekali diri dan terus belajar agar dapat mendampingi anak dalam menggunakan internet        terutama sosial media 
c) Melakukan diskusi tentang aturan dalam menggunakan internet atau sosial media dengan anak dan menentukan sanksi yang disepakati bersama 
d) Mengimbangi waktu bersosial media dengan interaksi di dunia nyata seperti aktivitas di luar ruangan, olahraga, musik atau kesenian lainnya, dan
e) Memonitor situs web yang diakses anak agar informasi yang didapatkan sesuai dengantahap perkembangannya 

           Tidak hanya itu, orang tua memiliki tanggungjawab untuk membangun rasa keterikatan (parental attachment) yang baik dengan anak. Parental attachment diperlukan untuk memenuhi kebutuhan intimasi anak. Diantaranya, merasakan kemesraan, kasih sayang, merasa aman dan terlindungi. Pola asuh tersebut dapat mempermudah orang tua dalam membina hubungan baik dan mengembangkan kecerdasan emosional anak. Sehingga, kedepannya anak tersebut mampu mengendalikan diri dengan baik dan tidak menggunakan sosial media sebagai media pengalihan dari masalah.

         Sebagai orang terdekat, orang tua memiliki peran besar dalam membentuk mental dan kepribadian anak. Maka dari itu, kenali karakteristik anak dan terapkan pola asuh yang sesuai. Jangan terlalu mengekang dan jangan pula terlalu ketat dalam menerapkan aturan agar tidak terjadi gesekan sehingga memicu anak untuk melawan dan memberontak. Batasi dan dampingi kegiatannya, agar anak bisa melakukan eksplorasi diri namun orang tua tetap dapat memberikan arahan yang benar. Sehingga, anak akan nyaman dengan suasana “Home” yang diciptakan dalam keluarga dan terhindar dari adiksi sosial media. (Adinda Regina Pramesti)


No comments