Pengaruh Berita Palsu Covid-19 pada Kesehatan Mental Masyarakat

Sumber : Google 

Seluruh dunia sedang menghadapi permasalahan yang sama yaitu, Covid-19 (Penyakit yang disebabkan virus corona). Sebuah virus penyakit yang mudah menular dan telah mewabah hampir di seluruh bagian dunia. Virus ini telah menginfeksi jutaan orang dan memakan ratusan ribu jiwa. Mulai akhir tahun 2019 sampai 2020 saat ini, masih ramai diperbincangkan perihal mengenai virus corona di seluruh dunia.

Penyebaran berita Covid-19 paling banyak melalui satu media besar yaitu, “Media sosial”. “Media sosial adalah medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya, berinteraksi, bekerjasama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lainnya, maupun membentuk ikatan sosial secara virtual.” Dikutip dari Jurnal Literasi Media oleh Gumgum Gumilar, Justito Adiprasetio dan Nunik Maharani.

Hadirnya fitur share, like, hashtag, trending topic, menjadi pisau bermata dua bagi para pengguna media daring. Kejadian yang paling sering terjadinya tak jauh dari kata “Hoax”. Berita palsu atau kerap disebut hoax, adalah berita yang direkayasa dan tidak sesuai dengan kerjadian aslinya, berita ini dibuat sedemikian rupa oleh suatu pihak dengan maksud dan tujuan yang tidak baik atau bermaksud menguntungkan satu  belah pihak.  Hasil studi Jonah Berger dan Katherine Milkman (Struhar, 2014) menunjukkan bahwa berita-berita yang dibagikan secara viral melalui media sosial adalah berita yang mampu membangkitkan emosi positif atau negatif yang sangat kuat (high-arousal emotions). Maka tak heran jika banyak orang asal saja percaya sebuah hoax atau bahkan menyebarluaskan sebuah berita yang menurutnya benar tanpa ada usaha untuk mencari aktualitas berita tersebut.

Berita hoax juga turut mewarnai kasus Covid-19. Minimnya kemampuan dan kemauan jurnalisme masyarakat, berita non-aktual tentang corona akan sangat mudah menyebar. Dengan menekan satu tombol share, hoax akan menyebar ke seluruh kalangan jagat maya. Bayangkan ada berapa banyak pengguna media sosial yang terpapar dengan berita hoax tanpa mereka sadari. Tanpa adanya disiplin dalam memilah kebenaran sebuah berita, hoax tentang corona akan semakin parah dan dapat berpengaruh pada kondisi mental setiap individu baik pembaca maupun penyebar.

Berita hoax tentang Covid-19 yang simpang siur dapat menimbulkan keresahan, rasa panik, dan kecemasan yang berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan mental apabila dibiarkan secara terus menerus tanpa adanya konseling yang tepat.

Menurut Nevid, dkk (2005), kecemasan adalah respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan bisa menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman, atau sepertinya datang tanpa ada penyebabnya – yaitu bila bukan merupakan respon terhadap perubahan lingkungan. Perasaan takut dan cemas yang berlebihan dapt mengganggu kebiasaan sehari-hari.

Satu berita hoax akan menggiring mereka ke berita hoax berikutnya dan seterusnya. Tanpa disertai dengan edukasi yang baik, pembaca akan dengan sangat mudah mempercayai berita yang dibaca. Semakin banyak berita hoax yang dibaca, maka tingkat kecemasan akan meningkat. Peningkatan kecemasan ini akan mengakibatkan rasa takut yang berlebihan bahkan sampai di satu titik mereka merasa bahwa keberadaan orang lain sebagai suatu ancaman. pada suatu hal yang belum tentu terbukti benar. Rasa takut ini dapat mengganggu kegiatan sehari-hari

Gangguan paranoid diawali dengan membaca berita hoax tentang Covid-19. Dari sumber terdekatnya seperti contohnya grup keluarga yang notabenenya berisi orang-orang terpercaya. Dimulai dari sebuah berita hoax, akan terus menggiring seseorang ke berita hoax lainnya yang akhirnya dapat memicu gejala kecemasan. Semakin banyak ia membaca berita-berita hoax ini, maka dirinya akan menimbun rasa cemas tersebut sehingga tumbuh rasa takut yang berlebihan. Rasa takut akan hal yang irasional dapat membuat dirinya melakukan yang irasional pula. Dari rasa takut ini ia akan mulai mengurangi kegiatan yang melibatkan orang lain karena menganggap orang lain sebagai ancaman. Akibatnya, rasa acuh terhadap orang lain perlahan memudar, simpati dan empatinya bertepat untuk melindungi dirinya seorang dari hal yang belum tentu benar, dan pribadinya berubah menjadi seseorang yang anti sosial. Seperti contohnya menggunakan APD saat berbelanja ke swalayan atau bahkan tidak mau menerima uang kembalian dari orang lain. Masyarakat menjadi takut bersosialisasi dengan siapapun karena paranoid dengan penularan corona. Bahkan terkadang sampai tiba di titik dimana masyarakat kehilangan rasa empati dalam menolong orang lain karena takut bersentuhan.

Berita hoax ini sangat berbahaya apabila dibiarkan terus berkembang di masyarakat. Menurut Grid Health gejala gangguan mental akibat paparan berita hoax memerlukan penanganan psikologis karena meyebabkan seseorang  mengalami  kecemasan  dan  stress.  Sebagai  contoh,  pada  saat  Covid-19  baru merebak di Indonesia, banyak beredar berita hoax yang menyatakan bahwa ada jenis masker tertentu yang mampu menangkal corona. Lalu ada lagi hoax yang menyatakan bahwa virus corona hanya dapat diuraikan oleh hand sanitizer. Bahkan sampai ada pernyataan bahwa virus corona sangat mudah bertransmisi lewat medium udara. Akibatnya, masyarakat menjadi cemas dan mengalami ketakutan yang berlebihan. Ketakutan dan rasa cemas ini memicu masyarakat untuk melakukan penimbunan bahan makanan, masker, hand sanitizer, dan kebutuhan pokok lainnya.

Walau begitu seiring berjalannya waktu, banyak orang mulai menyadari akan pentingnya memilah sebuah berita. Ketidaknyamanan dan lelah tekanan batin atas kecemasan yang ditimbulkan berita hoax, membuat masyarakat ingin mengurangi beban pikiran dalam menjalankan aktivitas berdampingan dengan adanya corona. Masyarakat mulai mau disiplin dalam mencari aktualitas sebuah berita, membandingkan sebuah sumber dengan sumber lainnya, dan sebagainya.

Oleh karena  itu,  kita tidak  boleh  menyepelekan  dampak  berita  hoax pada kesehatan  mental. Kominfo menyarankan masyarakat Indonesia untuk lebih bijak lagi dan berhati-hati dalam menyebarkan informasi dengan cara berikut (Kominfo.go.id):

1.   Hati-hati dengan judul provokatif

2.   Cermati alamat situs

3.   Periksa fakta

4.   Cek keaslian foto

5.   Ikut serta grup diskusi anti-hoax

Masyarakat  juga dapat  membantu  mengurangi penyebaran  berita hoax dengan melaporkan berita tersebut ke aduankonten@mail.kominfo.go.id. (Yvette Cecilia Farakh Lestari)

2 comments:

  1. Banyak pihak memanfaatkan isu dan menyebar berita hoaks untuk berbagai kepentingan. Yang penting kita selaku pengkonsumsi berita harus jadi pembaca yang smart. Selalu cross cek dulu sebelum dishare
    (Sutrisna, I Km)

    ReplyDelete
  2. Banyak berita dan isu yang berkembang yang belum tentu kebenarannya. Kita sebagai pembaca harus smart. Selalu cross cek dulu kebenaran berita sebelum di share

    ReplyDelete