Pengaruh Berita Hoaks Covid-19 terhadap Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Corona Virus Disease-19 atau Covid-19 merupakan suatu virus yang menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan. Sudah enam bulan pandemi ini melnda Indonesia, sejak kasus pertama yang terkonfirmasi ditemukan di Kota Depok, Jawa Barat pada tanggal 2 Maret 2020. Virus ini menyerang manusia tanpa melihat umur ataupun jabatan kita. Semua orang dapat terinfeksi virus ini. Proses penyebarannya yang sangat cepat dan ukurannya yang tidak terlihat dengan mata membuat virus ini sangat berbahaya. Saat ini, sudah sekitar 200 negara diseluruh dunia terkonfirmasi terjangkit oleh ini, (WHO, 2020).

Banyak sekali kerugian yang dapat kita rasakan secara langsung, seperti halnya gangguan psikologis. Salah satu gangguan psikologis yang dikhawatirkan adalah gangguan stres pasca trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Hal ini dikarenakan mereka akan memiliki rasa cemas dan memiliki rasa khawatir bagaimana mereka akan memulai kembali kehidupan normal mereka. Tentunya mereka perlu mendapatkan dukungan secara moril dan emosional dari orang-orang terdekatnya. Pengaruh dari trauma berkepanjangan yang dialami oleh seseorang dapat  memicu stres. Gangguan stres pasca trauma (PTSD) tersebut dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Apa itu Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)?

PTSD merupakan kelainan psikologis yang dicirikan dengan adanya gangguan ingatan secara permanen terkait  suatu kejadian traumatic, perilaku  menghindar dari rangsangan terkait trauma,  dan mengalami gangguan yang meningkat secara terus-menerus (American Pyschiatric Association, 1994). PTSD merupakan masalah yang cukup serius, hal ini dikarenakan PTSD dapat memicu gangguan jiwa berat bahkan percobaan bunuh diri. Kasus Covid-19 dapat berpengaruh terhadap masalah psikologis bagi orang yang telah pulih dari Covid-19, salah satunya PTSD. Mereka akan merasa ketakutan akan lingkungan sekitar dan sulit untuk melakukan kehidupan secara normal.

Penyebab PTSD akibat Covid-19

Menurut penulis terdapat beberapa penyebab gangguan kesehatan mental yang disebabkan oleh Covid-19, antara lain:

1. Pengalaman pada saat menjalani Isolasi di Rumah Sakit Karantina, termasuk keadaan didalamnya.

2. Merasakan ketakutan yang amat besar akan terjangkit lagi setelah pulih secara medis.

3. Terbayang akan kematian akan terus menghantui. 

Pengaruh dari Berita Hoaks yang Beredar di Masyarakat terhadap Covid-19


 

Gambar 1. Berita Hoaks Virus Corona di Italia

Sumber: https://www.kominfo.go.id/




Gambar 2. Berita Hoaks Virus Corona di Indonesia

Sumber: https://www.kominfo.go.id/ 

Maraknya  berita  yang  kebenarannya  dipertanyakan  beredar  luas  dimasyarakat,  baik melalui media sosial maupun dari mulut ke mulut, memengaruhi lingkungan masyarakat. Bahkan hal ini dapat saja memperburuk keadaan dan dapat menyebabkan peningkatan terhadap kasus Covid-19. Bagaimana bisa?, sistem imunitas pada tubuh kita juga dipengaruhi salah satunya oleh psikologi diri kita sendiri. McEwen (2017) dalam bukunya yang berjudul “Neurobiological and systemic effects of chronic stress” menyebutkan bahwa stres bekepanjangan dapat memicu penekanan simultan dan peningkatan respons imun melalui perubahan pola ekspresi hormon sitokin. Ketika muncul kasus positif covid dan beredar berita-berita  hoaks,  dapat  menyebabkan  terganggunya  kesehatan  mental,  baik  individu  yang  sudah maupun yang belum terjangkit. Akibat sistem imun yang menurun tersebut, membuat masyarakat sangat rentan terserang virus Covid-19.


 Diagram 1. Diagram Alir Hubungan Covid-19 dan PTSD 

 Cara Mengatasi PTSD di Masa Pandemi Covid-19

1.   Lebih selektif terkait informasi Covid-19

Berita-berita yang terlalu berlebihan di media dapat membuat perasaan menjadi tertekan dan juga meningkatkan rasa ketakutan yang amat besar akan virus Covid-19.

2.   Berkonsultasi ke Psikolog

Salah satu hal yang dapat dilakukan juga adalah berkonsultasi ke tenaga professional dibidangnya, seperti Psikolog. Ini dapat membuat perasaan kita lebih tenang.

3.   Selalu berpikir positif

Mengarahkan pikiran kita kepada hal yang positif, seperti hal nya kita akan beranggapan bahwa pandemi ini akan segera teratasi atau berakhir.

4.   Menghidari hal yang dapat mengembalikan ingatan traumatis

Menghindari ingatan peristiwa traumatis, termasuk aktivitas, tempat, orang, pikiran atau perasaan yang memunculkan kembali ingatan trauma.

5.   Melakukan aktivitas yang menyenangkan

Beraktivitas yang menyenangkan seperti melakukan hobi kita, berjalan-jalan, melakukan olahraga, mendengarkan musik, dan lainnya, dapat memulihkan kesehatan mental kita serta meningkatkan sistem imun pada tubuh kita.

Dukungan  emosional  menjadi  sangat  berharga  bagi  mereka  yang  mengalami  PTSD,  karena mereka membutuhkan orang-orang terdekat  yang dapat  dipercaya untuk  membantu dalam mengatasi gangguan tersebut. Dengan adanya dukungan emosional dari orang-orang terdekatnya, diharapkan akan membuat mereka memilki kepercayaan diri yang baik, merasa diterima, dan dapat kembali beraktivitas secara normal.

Bastman  (1996)  mendefinisikan  dukungan  sosial  sebagai  hadirnya  orang-orang  tertentu  yang secara pribadi memberikan nasehat, memotivasi, mengarahkan, memberi semangat, dan menunjukakan jalan keluar ketika sedang  mengalami masalah  dan pada saat  mengalami kendala dalam  melakukan kegiatan secara terarah untuk mencapai tujuan.

Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima seseorang, maka semakin rendah risiko terkenan gangguan stress pasca trauma yang dialami. Begitu pula sebaliknya. Semakin rendah dukungan sosial yang diterima seseorang, maka akan semakin tingi gangguan stres pasca trauma yang dialami. (Muhammad Nur Faishal Farid)

Daftar Pustaka

American Psyciatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorder. Fourth Edition. Washington DC: Author.

Bastaman, H. D. (1996). Meraih hidup bermakna. Jakarta: Paramadina

McEwen, B. S. (2017). Neurobiological and systemic effects of chronic stress. Chronic stress, 1, 2470547017692328. 

World Health Organization. (2020). Coronavirus disease (COVID-19) situation dashboard. tautan: https://covid19.who.int/, Diakses pada 31 Agustus 2020 Pukul 11.50 WIB.


No comments