MERESPON MEDIA DI TENGAH WABAH COVID-19

Sumber : Google

Perbincangan mengenai COVID-19 di awal tahun 2020 sampai saat ini seakan tidak ada habisnya. Virus dari Wuhan yang secara resmi dianggap sebagai pandemi dan dapat mengakibatkan penyakit saluran pernapasan ini selalu menarik untuk dibahas. Mulai kaitannya dengan keadaan sosial ekonomi, politik, pemberitaan media, dan tentu saja kesehatan fisik dan mental masyarakat.

Wabah COVID-19 telah menyita perhatian media. Secara bersamaan banyak sekali hoax, rumor, potongan informasi, dan konspirasi berkeliaran di media massa. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pun memberi pandangannya terhadap kondisi saat ini, menurutnya “We’re not just fighting an epidemic, we’re fighting an infodemic” terkait dengan masifnya penyebaran berita palsu yang menurutnya lebih cepat dari penyebaran virus itu sendiri. Masalah yang menjadi krusial selanjutnya adalah bahwa berita palsu atau hoax menyebar lebih cepat daripada berita dari sumber terpercaya, sehingga merusak ekosistem berita.

Semangat dan kekhawatiran masyarakat yang tinggal dalam kungkungan isolasi dan karantina mendorong mereka untuk bersikap hati-hati terhadap keadaan. Stres psikososial menjadi salah satu penyebab yang dapat memicu keingintahuan mereka tentang penyakit tersebut. Namun, yang selanjutnya menjadi pertanyaan adalah, sudahkah media memberikan jaminan akan kebenaran informasi yang diutarakannya?

Uzi Shaya, seorang mantan perwira intelejen senior Israel dalam salah satu wawancaranya dengan The New Yorker, mengatakan “Media sosial memungkinkan Anda menjangkau hampir semua orang dan bermain dengan pikiran mereka” Begitulah media sosial mengambil peran penting dalam kehidupan. Namun, inilah kita, tiba di era post truth, dimana kebenaran tidak lagi bersandar pada fakta melainkan pada perspektif subjektif semata. Kita akan cenderung berpikir dengan “otak emosional” sebagai lawan “otak rasional. Fenomena yang telah menempatkan masyarakat pada situasi saling mencurigai. Gambaran kabur antara mana berita valid dan mana yang hoax.

Liputan media mau tidak mau telah mempengaruhi emosi masyarakat. Sebagai gambaran, rasa takut dan khawatir telah memainkan peran vital dalam liputan wabah COVID-19 ini. Hal tersebut terinterpretasi dari banyaknya media yang bermain dengan frasa mengerikan. Sebagai contoh, banyak media yang menuliskan “virus pembunuh” ataupun “ekonomi mati” dalam liputannya. Belum lagi headline berita yang dilebih-lebihkan. Keadaan ini menimbulkan kecemasan berlebih pada masyarakat yang dapat dikatakan sebagai state anxiety. Menurut Cattel dalam De Clerd (1994), state anxiety merupakan reaksi emosi sementara yang timbul pada situasi tertentu sebagai respon terhadap ancaman atau situasi yang memiliki potensi membahayakan baginya.

Penjelasan di atas menggambarkan adanya relasi antara kecemasan dengan kemampuan individu mengatur emosinya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengontrol emosinya dalam keadaan seperti ini, salah satunya adalah dengan menerapkan strategi regulasi emosi. Gross (2007) menjelaskan regulasi emosi adalah kemampuan  yang dimiliki individu untuk menilai, mengatasi, mengelola,  dan mengungkapkan emosi yang tepat untuk mencapai keseimbangan emosional. Keberhasilan mengungkapkan emosi secara adaptif dapat meningkatkan individu untuk menghadapi ketegangan dalam hidupnya dan menghindari perilaku maladaptif. Regulasi emosi merupakan strategi untuk mempertahankan emosi seimbang yang dirasakan baik emosi positif ataupun negatif. Regulasi emosi merupakan cara individu untuk mengkomunikasikan emosinya dengan baik dan dapat diterima secara sosial.

Gross dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa individu yang menggunakan regulasi emosi cognitive reappraisal cenderung mengekspresikan emosi positif dan memiliki hubungan interpersonal yang baik dengan lingkungan sekitar. Gross (2003) mengartikan cognitive reappraisal sebagai mengubah cara cara berpikir seseorang terhadap suatu rangsangan emosional tertentu yang dilakukan sebelum respon emosional muncul sepenuhnya. Cognitive reappraisal menurut Ochsner dan Gross melibatkan beberapa aspek yaitu (1) reframing peristiwa yang menimbulkan emosi ;(2) membuat tafsiran baru terhadap suatu peristiwa ;(3) memaknai kembali keadaan khususnya stimulus penyebabnya. Dalam strategi ini individu lebih banyak mengutarakan emosi positif daripada emosi negatif. Regulasi emosi sejatinya penting untuk dipelajari. Dengan ini, kita dapat menyesuaikan diri kita dengan keadaan yang terjadi.

Data yang dihimpun oleh We Are Social menyatakan pada tahun 2020 terdapat 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Jumlah ini diperkirakan sekitar 64% dari total penduduk di Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa. Kondisi ini tentu saja menguatkan fakta bahwa masifnya perkembangan informasi tidak dapat dihentikan, namun selayaknya dikategorikan. Sebuah kata-kata menarik yang ditulis oleh seorang filsuf skolastik dari Perancis yang tetap terkenang sampai sekarang adalah “The beginning of wisdom is found by doubting; by doubting we come to the questions, and by questioning we may come to the truth”. Literasi media merupakan salah satu keterampilan yang wajib dimiliki oleh semua orang yang hidup pada era ini. Masyarakat dan pemerintah sudah seharusnya tidak menutup mata terhadap pertanggungjawaban informasi yang beredar.

Paparan informasi berlebih di masa pandemi tidak sepenuhnya menguntungkan. Bijak memilah dan menerima merupakan kunci utama dalam mengolah informasi. Terakhir, sains selalu mengajarkan kita untuk bersikap skeptis. Hati-hati dan kritis merupakan kunci bertahan dalam era informasi ini. Tetap positif dan terus jaga kesehatan. (Nafa Laila Wahidah)

1 comment:

  1. Nafa joss✨🔥🔥🔥 semangattt terusss❤️❤️ aku bacanya bayangin nafa ngomong wkkwk

    ReplyDelete