Merawat Individu dengan ADHD: Membasmi Stereotip yang Fiktif Belaka

(sumber : google)

“Bagaimana bisa anak saya menjadi begitu nakal? Apakah salah saya?” Pemikiran seperti itu sering kali terlintas pada benak orang tua dengan anak yang memiliki Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder, atau yang sering disebut sebagai ADHD. Sayangnya, anak-anak dengan ADHD kerap diasosiasikan dengan predikat aneh, kegagalan, cobaan dari Tuhan, atau petaka. Pernyataan tersebut tentunya tidak benar dan dapat mengakibatkan penerapan pola asuh yang kurang tepat oleh orang tua.

ADHD adalah gangguan mental yang biasanya ditemukan pada anak, ditandai oleh kesulitan untuk memusatkan perhatian, kegelisahan, serta gerak gerik yang impulsif. ADHD terkenal dengan ciri khas ketidakmampuan anak untuk duduk diam dan menuruti ajakan orang tua untuk berperilaku sesuai pada tempatnya. Oleh sebab itu, masyarakat cenderung menempatkan kesalahan pada orang tua dengan tudingan pola asuh yang kurang baik, dan malah mengesampingkan akibat utama perilaku anak tersebut. Stereotip ini terus berlanjut walau prevalensi anak dengan ADHD meningkat dengan konstan setiap tahunnya. Riset yang dilaksanakan pada tahun 2011 menunjukkan bahwa satu dari 200 anak di Indonesia didiagnosis dengan ADHD, dan lebih dari seperempat murid sekolah dasar di Jakarta memiliki ADHD. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluruskan fakta dibalik fiksi yang menyangkut ADHD agar masyarakat lebih peduli dan mampu bersikap inklusif terhadap individu dengan gangguan perkembangan, salah satunya ADHD.

Mitos pertama yang harus kita tinggalkan adalah reputasi individu ADHD yang biasa dituding ‘bersembunyi’ dibalik topeng ‘keterbatasan mental’ untuk membenarkan tindakan yang tidak bertanggung jawab. Contoh yang paling sering ditemukan adalah bagaimana mereka mengalami kesulitan untuk fokus di kelas atau menanggapi perintah orang dewasa. Namun, perlu diperhatikan bahwa mereka tidak melakukan tindakan tersebut secara disengaja untuk membuat orang lain kesal. Mereka ingin memahami lawan bicaranya, namun mereka pun sudah terbiasa dan merasa nyaman dengan kondisinya. Mereka juga kerap kali frustrasi dengan keterbatasan mereka yang memengaruhi komunikasi intra personalnya dengan orang lain. Terlebih, anak-anak tersebut juga belum mengerti bagaimana cara mengontrol perilaku mereka, apalagi menuruti instruksi orang lain. Apabila ini berlanjut, kedua pihak tidak akan merasa dimengerti. Oleh karena itu, orang dewasa yang berinteraksi dengannya sehari-hari sebaiknya menjaga sikap positif di depan mereka. Faktanya, sikap positif serta ketenangan dapat membantu anak-anak dengan ADHD untuk ikut fokus. Selain itu, ada baiknya pula jika orang tua tidak mudah mengeluh atas hal-hal kecil yang belum dipahami anak mereka. Peringatkan mereka kembali dengan sabar tentang tindakan yang tepat secara berulang, agar mereka pun perlahan-lahan dapat mengerti pesan yang ingin disampaikan. 

Stereotip selanjutnya berupa anak-anak dengan ADHD biasanya kurang cerdas atau malas karena sudah dibiasakan untuk bertindak sekehendak hati mereka. Namun, riset membuktikan bahwa individu dengan ADHD memiliki tingkat inteligensi (IQ) yang rerata sama dengan mereka yang tidak memiliki keterbatasan mental. Dalam kata lain, persebaran tingkat inteligensi antara mereka dengan ADHD sama dengan mereka tanpa ADHD: ada yang tinggi, ada yang sedang, ada yang rendah. Oleh karena itu, stigma yang menyatakan bahwa orang dengan ADHD memiliki kecerdasan rendah merupakan kesimpulan salah yang diambil masyarakat akibat perbedaan perilaku antara anak dengan ADHD dan tidak. Di sisi lain, banyak anak-anak dengan ADHD juga dikenal kreatif, sehingga tidak jarang mereka dapat memecahkan berbagai masalah dengan mudah. Melalui pernyataan ini, dapat kita simpulkan bahwa dengan penanganan serta pola asuh yang tepat, anak dengan ADHD dapat berprestasi layaknya seorang anak tanpa ADHD.

Stigma terakhir yang juga tidak kalah sering terdengar adalah tentang ketidakmampuan anak dengan ADHD untuk berteman. Kerap kali orang tua dengan anak ADHD khawatir terhadap hidup pertemanan anak-anak mereka di sekolah. Tentu saja, cara mereka berbaur dengan teman-temannya akan berbeda dengan anak pada umumnya. Belum ada kesimpulan bagaimana ADHD sendiri mengganggu interaksi mereka dengan orang lain, namun tercatat kasus di mana anak-anak dengan ADHD menarik diri dari teman-temannya, atau ditolak karena hiperaktivitas mereka. Ada juga kala di mana mereka berperilaku agresif atau sebaliknya, tidak memerhatikan atau memberikan perhatian intim kepada teman-temannya yang membuat mereka dikucilkan. Oleh karena itu, mereka kerap dianggap anomali di antara teman-teman mereka. 

Fakta bahwa kemampuan sosial mereka tidak sebaik individu lainnya tidak dapat dipungkiri. Namun, hal tersebut tidak berarti mereka tidak dapat bersosialisasi. Pada akhirnya, mereka tetap merupakan makhluk sosial. Di sini peran orang tua dan orang dewasa di sekelilingnya sangat penting untuk mendukung anak-anak dengan ADHD berkembang. Orang tua dapat melatih kemampuan bersosialisasi mereka dengan berbagai cara, misalnya membuat naskah singkat tentang pembicaraan sehari-hari dan melatihnya bersama, mengundang teman-teman ke rumah dan membantu mereka berinteraksi, atau orang tua dapat mendiskusikan kepada guru atau bimbingan konseling mereka di sekolah tentang kondisi mereka agar guru yang bertanggung jawab dapat lebih memerhatikan dan membantu anak tersebut dalam berteman. Dibutuhkan juga dukungan berbagai pihak untuk membantu anak dengan ADHD agar mereka berada di lingkungan yang positif yang akhirnya akan mendukung pertumbuhan mereka, karena pertemanan yang positif akan berdampak positif pula terhadap kehidupan mereka dalam jangka panjang.

Sebagai kesimpulan, banyak sekali mitos yang merendahkan anak-anak ADHD secara tidak tepat dan dapat semakin menjauhkan mereka dari bantuan, serta pola asuh yang sebenarnya diperlukan. Walaupun dengan berbagai keterbatasan, individu dengan ADHD dapat bertumbuh kembang layaknya anak-anak lain apabila disediakan sarana dan prasarana yang tepat. Sangat banyak individu dengan ADHD yang berakhir sukses. Anakanak dengan ADHD adalah berkat, bukan malapetaka. (Kassie Gracella Putri, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)

Referensi:
1. Healthwise Staff. ADHD myths and facts [internet]. Canada; Health Link BC: 2019 April 18. [cited 2020 Aug 27] available from: https://www.healthlinkbc.ca/health-topics/hw164660
2. Roshinah F, Nursaliha L, Amri S. Pengaruh terapi Murottal terhadap tingkat hiperaktif – impulsif pada anak Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). J Penelit Mhs UNY. 2014;9(02):141–5. 
3. Smith M, Segal J. ADHD Parenting tips [internet]. USA; HelpGuide: 2019 November. [cited 2020 Aug 27] available from: https://www.helpguide.org/articles/add-adhd/when-your-child-has-attention-deficitdisorder-adhd.htm 
4. CDC. What is ADHD? [internet]. USA; CDC: 2020 April. [cited 2020 Aug 27] available from: https://www.cdc.gov/ncbddd/adhd/facts.html 
5. Aili H, Norharlina B, Manveen K, Wan Salwina W. Family Difficulties in Children with ADHD, the Role of Integrated Psychopharmacology Psychotherapy Treatment. USA: IntechOpen: 2015
 6. Wood AC, Rijsdijk F, Johnson KA, Andreou P, Albrecht B, Arias-Vasquez A, et al. The relationship between ADHD and key cognitive phenotypes is not mediated by shared familial effects with IQ. Psychol Med. 2011 Apr;41(4):861-71. 
7. Normand S, Schneider BH, Robaey P. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder and the challenges of close friendship. J Can Acad Child Adolesc Psychiatry. 2007 May;16(2):67-73.

3 comments: