Menjaga Ketenangan Pikiran Di Tengah Deras Laju Ombak Informasi

 
(sumber : google)

        Hidup semakin begitu-begitu saja semenjak pandemi datang. Saya sedang duduk di depan laptop ditemani secangkir kopi hangat yang baru saja saya seduh pagi itu. Sembari memakan roti yang menjadi menu sarapan, saya iseng melihat-lihat twitter. Barangkali ada hal baru yang terjadi dan saya lewatkan selama saya tertidur malamnya. Fokus saya tertuju pada suatu cuitan mengenai pergerakan yang belakangan ini ramai dibicarakan, demonstrasi besar-besaran karena adanya diskriminasi terhadap kulit hitam di Amerika Serikat. Lucu rasanya, meskipun saat ini hanya bisa berada di rumah, pikiran saya bisa mengunjungi berbagai tempat di dunia dengan mengerti apa yang terjadi di tiap tempat tersebut tanpa terlibat secara langsung. 

        Mendapat kemudahan berupa akses cepat ke berbagai informasi membuat saya merasa beruntung. Namun di sisi lain, merasa bingung. Seperti saya yang menyantap sarapan sembari mengakses media sosial, berbagai segi kehidupan manusia pada masa kini memang sulit dilepaskan dari teknologi informasi. Informasi begitu banyak tersedia dan begitu mudah diakses pada masa sekarang. Perkembangan teknologi menggeser kita pada budaya yang serba instan. Kita seolah dipaksa mengetahui semuanya secara cepat yang mendorong alam bawah sadar kita untuk tak perlu repot-repot memeriksa sumber dari informasi tersebut. Budaya instan ini juga menyediakan kesempatan bagi semua orang untuk mengambil peran sebagai ‘media’ pada masa sekarang. Informasi tidak lagi hanya dapat diperoleh dari koran maupun berita televisi. Group chat dan media sosial secara general menjadi tempat paling cepat tersebarnya informasi. 

        Budaya ‘cepet-cepetan’ ini memiliki satu resiko yang mungkin belum terpikirkan pada masa pembuatan internet dan media sosial. Teknologi-teknologi tersebut telah memberi kesempatan kepada penggunanya untuk mengakses segala informasi bahkan membuat dan menyebarkan hal yang belum diketahui kebenarannya dalam waktu yang sangat singkat. Contoh yang paling mudah kita temui adalah teori-teori konspirasi. Nyatanya, meskipun sudah jelas-jelas bernama ‘teori’ dan belum diketahui kebenarannya, banyak pertengkaran di internet yang timbul atas nama teori-teori konspirasi tersebut. Di saat yang bersamaan, media sosial menggunakan kecerdasan buatan yang memungkinkan penggunanya terus menerus mendapat informasi yang disukai. Hal ini berakibat para pengguna bisa saja berada dalam lingkaran hoax tanpa pernah menyadarinya. 

        Meskipun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hoaks haruslah diwaspadai, studi dari jurnal Science mengatakan bahwa di twitter, hoaks tersebar enam kali lebih cepat dibanding dengan berita yang sebenarnya. Hal ini masuk akal karena hoaks biasanya dibuka dengan judul yang sensasional, mengerikan, dan menarik secara emosional sehingga kemungkinan ‘klik’ menjadi lebih besar. Lain halnya dengan twitter yang lebih banyak digunakan oleh anak muda, grup whatsapp dan facebook lebih banyak didominasi oleh usia dewasa produktif dan 65 tahun ke atas. Namun, lagi-lagi, dari studi yang dilakukan oleh akademisi Universitas New York dan Universitas Princeton yang diunggah di laman Science Advance menunjukkan bahwa penyebaran hoaks oleh masyarakat berusia 65 tahun ke atas berjumlah dua kali lebih banyak dari usia 45-65 tahun dan tujuh kali lebih banyak dari usia 18-25 tahun. Meskipun berlatar belakang pendidikan yang cukup baik, para senior yang telah berusia 65 tahun ke atas adalah generasi yang baru mengalami pengenalan teknologi informasi semacam ini di usia tua. Kemampuan kognitif yang menurun mempengaruhi kesulitan mereka dalam membedakan informasi yang benar dan tidak. Hal ini disayangkan karena tidak sedikit dari mereka yang merupakan tokoh terhormat dan dianggap penting dalam suatu lingkaran masyarakat.

        Berita hoaks bukan hanya sekedar informasi palsu yang disebarkan. Dikutip dari Vasilis K. Pozios, seorang psikiater forensik dan co-founder dari Broadcast Thought (media konsultasi terkait kesehatan mental), “Informasi palsu dimaksudkan untuk memanipulasi opini publik, didesain untuk memprovokasi respon emosional dari si pembaca atau penonton. Secara natural hal tersebut dapat menimbulkan perasaan marah, curiga, kegelisahan bahkan depresi.” Lebih jauh, Pozios mengatakan bahwa perasaan kegelisahan dan frustasi tersebut akan lebih rawan muncul apabila pembaca merasa powerless terhadap fake news yang disebar tersebut. Seperti yang beberapa waktu lalu terjadi, kepanikan akan COVID19 yang berlebihan justru menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat. Penimbunan dan pembelanjaan barang kebutuhan secara besar-besaran menjadi salah satu bukti bagaimana berita hoax dapat memberi pengaruh tidak hanya bagi si penyebar tapi bagi banyak orang lain juga.

        Ketika dihadapkan dengan informasi palsu, manusia memiliki kecenderungan lebih besar untuk menggunakan bagian emosional ketimbang bagian rasional dari otak kita. Namun Poizos mengatakan bukan berarti pemikiran rasional kita tidak dapat dikembangkan. Melatih pikiran rasional menjadi hal yang penting untuk dilakukan dalam menghadapi semua informasi yang kita dapatkan termasuk informasi yang tampak terpercaya. Strategi ini dapat melindungi kita dari emosi atau perasaan yang tidak diinginkan sehingga kesehatan mental kita tetap terjaga. 

        Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menghindari menyikapi hoax secara emosional. Yang pertama adalah bertanya. Kita bisa bertanya kembali tentang informasi yang kita peroleh. Dari mana sumbernya? Apakah ada bukti yang mendukung? Apakah benar narasumber merupakan orang yang ahli di bidangnya? Apakah ini hanya merupakan propaganda? Hal ini memang akan memakan waktu. Tapi akan lebih baik tertinggal sedikit informasi daripada menelan mentah-mentah banyak berita bohong. Yang kedua adalah memeriksa bias yang kita miliki. Bias adalah condong opini karena pendapat yang sudah kita miliki sebelum memulai membaca suatu informasi. Bacalah suatu informasi secara objektif dan jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Jadi, jika suatu saat kita membaca berita buruk politisi yang kita dukung, kita tidak perlu cepat-cepat tersulut emosi dan terlibat perang argumen secara daring yang justru menguras energi dan menimbulkan stress. Yang ketiga, jangan menganggap semua yang ada di internet sebagai suatu hal yang serius. Jadilah humoris dan berpikir lebih positif terhadap apa yang kita baca dan lihat. 

        Jika semua cara tersebut sudah dilakukan dan informasi di internet masih terasa melelahkan dan menguras emosi, mungkin menjauhkan diri sejenak dari perangkat teknologi yang ada menjadi pilihan yang bijak. Dengan meluangkan sedikit lebih banyak waktu untuk berpikir dan memeriksa kembali, pikiran kita dapat lebih tenang di tengah bombardir informasi palsu yang semakin hari semakin tidak ada habisnya. (Firdausi Dhea Hanindra, Universitas Diponegoro)

1 comment: