MALAPETAKA BERITA BOHONG: PENCETUS DEPRESI DI TENGAH PANDEMI


 Sumber : Google

Teknologi telah menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat di era modern. Teknologi seperti ponsel, televisi, komputer, dan berbagai jenis lainnya merupakan media penyampaian informasi yang umum digunakan bagi masyarakat luas saat ini. Ditambah lagi dengan eksistensi media sosial yang menambah kemudahan dan kecepatan untuk berbagi informasi dari berbagai penjuru dunia. Setiap orang dengan beragam latar belakang dapat dengan mudah menulis, menyebar, dan mengirimkan informasi apapun melalui berbagai platform media sosial.

Kemudahan penyebaran informasi dapat dianologikan sebagai pisau bermata dua. Manfaatnya sangat besar bila digunakan dengan benar, namun mudaratnya tidak kalah besar jika digunakan untuk hal yang tidak semestinya. Kebermanfaatan dan kemudaratan suatu informasi ini tidak lepas dari peran individu yang menggunakan media tersebut. Karakter bertanggung jawab sangat penting dimiliki oleh setiap individu yang menyebarkan informasi di media. Ironisnya, tidak semua orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan dan dikatakan. Tidak sedikit orang secara sadar menyebarkan informasi bohong di media sosial dengan beragam tujuan.

Berita bohong atau lebih dikenal dengan istilah hoax merupakan segala bentuk berita yang tidak sesuai dengan realita yang terjadi dan digunakan untuk kepentingan seseorang atau sekelompok orang. Penyebaran berita ini menimbulkan berbagai dampak yang muncul sebagai respons dari membaca berita bohong tersebut. Presepsi dan perilaku individu dalam dunia nyata dapat dipengaruhi oleh berita bohong yang dikonsumsi. Sebagai contoh, beberapa tokoh atau influencer media sosial pernah mengutarakan bahwa pandemi Covid-19 hanya bualan belaka. Narasi ini berhasil menggiring presepsi dan perilaku sejumlah konsumen informasi tersebut. Pembaca yang percaya akan mulai abai dengan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Mereka terlanjur yakin bahwa virus ini hanya fiktif semata. Kelompok ini kemudian dengan percaya diri menyebarkan informasi bohong tersebut untuk memengaruhi pembaca lain agar sependapat dengan mereka. Malapetaka kemudian terjadi. Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia semakin menapak naik dari hari ke hari. Hingga tertanggal 28 September 2020, jumlah terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia telah mencapai angka 278.722 orang.

Kesehatan manusia tidak dapat dilihat dari aspek fisik semata. Menurut World Health Organization, sehat berarti “suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan”. Seseorang yang sehat fisiknya, namun terdapat gangguan pada mental atau sosial tidak dapat dikatakan sebagai individu yang sehat. Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, ancaman kesehatan manusia bukan hanya terfokus pada aspek fisik berupa ancaman infeksi virus Covid-19 saja. Aspek gangguan kesehatan mental dan sosial juga terancam mengalami peningkatan selama pandemi ini. Ironisnya, gejala yang timbul terkadang tidak disadari oleh individu yang bersangkutan atau orang sekitar.

Krisis yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 telah menjadi faktor risiko untuk menimbulkan permasalahan kesehatan mental. Belum lagi kondisi ini diperparah dengan berbagai berita bohong yang dapat dengan mudah disebar dan diakses oleh masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia pada Mei 2020 telah menemukan sebanyak 1.401 berita bohong mengenai pandemi Covid-19. Ribuan berita bohong ini dikonsumsi oleh masyarakat dengan berbagai latar belakang. Jika berita ini dibaca oleh individu yang memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni dan literasi yang baik, tentu berita bohong ini tidak terlalu menjadi persoalan. Namun ironisnya, tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain di dunia. Kondisi ini menjadi habitat yang baik bagi berita bohong untuk tumbuh subur di Indonesia.  Rendahnya budaya literasi menyebabkan filtrasi terhadap berita bohong menjadi kendor. Muatan berita bohong yang bersifat kontroversial dapat menjadi pemantik masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan mental lainnya.

Depresi adalah salah satu kesehatan mental yang banyak diderita. Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III), depresi didefenisikan sebagai gangguan mood dengan gejala utama (1) afek depresif, (2) hilangnya minat melakukan aktivititas, dan (3) hilangnya energi dengan berbagai manifestasi seperti mudah lelah, gangguan konsentrasi, penurunan kepercayaan diri, perasaan bersalah, pesimis terhadap masa depan, atau bahkan adanya ide untuk bunuh diri. Menurut Santrock (2003) depresi dapat disebabkan oleh faktor fisik dan sosial lingkungan. Faktor fisik meliputi (1) faktor genetik, (2) susunan kimia otak dan tubuh, (3) faktor usia, (4) faktor gender, (5) penyakit kronis yang diderita, (6) gaya hidup, dan (7) konsumsi obat-obatan tertentu. Sedangkan faktor sosial lingkungan meliputi (1) kepribadian, (2) pola pikir, (3) harga diri, dan (4) berbagai stressor lingkungan eksternal.

Berita bohong yang muncul ke publik akan diolah secara berbeda antar individu. Individu yang telah memiliki  permasalahan berat sebelumnya, seperti misalnya adanya permasalahan ekonimi, adanya kerenggangan hubungan dengan orang tersayang, atau kehilangan seseorang yang berharga akan lebih mudah jatuh dalam kondisi depresi ketika stressor ditambah dengan berita bohong. Menurut teori kognitif Beck, depresi dapat terjadi melalui rangkaian 3 hal yaitu pikiran negatif tentang diri sendiri, dunia, dan masa yang akan datang. Seseorang yang depresi akan kehilangan minat untuk melakukan aktivitas apapun, bahkan aktivitas yang paling disukai sekalipun. Munculnya rasa ketidakberdayaan membuat penderita depresi mengalami gangguan produktivitas dalam kehidupan sehari-hari dan menimbulkan rangkaian masalah baru berikutnya. Berbagai tugas akan terbengkalai dan fungsi sosial tidak dapat dilakukan secara optimal.

Oleh karena itu, agar tidak jatuh ke dalam kondisi depresi hendaknya seseorang mampu untuk memfiltrasi berita yang dikonsumsi di media sosial. Tidak semua hal yang beredar di media sosial adalah kebenaran. Lakukan verifikasi dan menunda untuk menyebarkan berita sebelum terbukti adalah cara untuk memutus mata rantai penyebaran berita bohong. Memutus mata rantai berita bohong maka memutus mata rantai depresi yang dipicu oleh berita bohong tersebut. Yuk kita bersama-sama memutus rantai tersebut! (Syarifa Soraya Fairuzha)

No comments