Gelang Tri Datu : Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur Rahayu Telisik Komunikasi dengan Orang Gangguan Mental

    

Sumber : Google

        Namanya Rahayu, dalam Bahasa Bali artinya keselamatan atau sentosa.

    Malam itu, Rahayu memantapkan pilihannya untuk mengundurkan diri dari unit paramedis kami. Alasannya ingin fokus dalam pemulihan dari depresi psikotik yang dimilikinya. Aku duduk berhadapan di lantai markas bersama Rahayu. Bukan sentosa yang kulihat, tetapi kekacauan.

    Dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) edisi empat yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association, depresi psikotik didiagnosis sebagai episode depresi parah, dengan fitur psikotik seperti halusinasi dan pergantian suasana hati ekstrem. Dari luar, Rahayu terlihat normal. Ia bercengkrama, berbicara dan berpikir seperti teman-teman lain, bahkan ia terlihat lebih sigap dibanding seluruh anggota unit kami. Ditambah, ia bisa bertahan dalam didikan dan tekanan sebagai seorang paramedis. Tidak ada yang tahu ia memikul beban yang berat, sampai pada satu waktu seorang senior dokter tidak sengaja memergokinya mengonsumsi obat antipsikotik yang diresepkan oleh psikiaternya.

    Rahayu terus memainkan gelang Tri Datu yang dikenakannya. Gelang Tri Datu terdiri dari susunan benang yang diyakini memiliki kekuatan berdasar pada filosofi warna menurut kepercayaan Hindu di Bali. Tri Datu terdiri dari tiga warna, yaitu merah melambangkan Dewa Brahma (pencipta), hitam melambangkan Dewa Wisnu (pemelihara), dan putih melambangkan Dewa Siwa (pelebur). Tiga komponen ini membuatku berpikir bahwa memang ada dewa pelindung dalam menghadapi penyakit mental, dan kita bisa mulai dari situ.

Merah, Pencipta Pelita

“Kamu tidak sendirian menghadapi ini.”

    Perasaan Rahayu gelap saat kambuh. Tiba-tiba muncul banyak suara di kepalanya yang membuat emosinya bergejolak dan membuatnya tampak seperti orang aneh, ketakutan sendirian karena merasa terjebak di tempat yang gelap. Tidak ada yang mengerti dirinya.

    Meskipun kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental telah meningkat, masih ada stigma yang terkait dengan kondisi ini. Kenyataannya, pandangan dan reaksi masyarakat terhadap penyakit mental masih berbeda dengan penyakit fisik. Masyarakat cenderung menyuruh mereka untuk “lupakan saja!”. Apakah itu yang mereka butuhkan? Tidak, mereka membutuhkan pertolongan profesional dan dukungan. Baiknya adalah mereka mendengar seseorang akan selalu ada dan selalu bersama mereka selama pemulihan.

    Setiap orang memiliki kisah unik dalam perjalanan hidupnya, namun tidak semuanya bisa dibandingkan. Kita tidak bisa menyuruh mereka untuk mengontrol apa yang ada dalam pikiran maupun perasaan mereka. Penyakit mental bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol, sama halnya dengan penyakit fisik. Perumpamaannya, orang yang memiliki penyakit jantung tidak akan bisa mengontrol waktu kambuh, walaupun mereka sudah sebisa mungkin menjaga pola makan dan gaya hidup. Jika kita bisa berempati dengan orang yang memiliki penyakit jantung, mengapa tidak dengan orang yang memiliki penyakit mental?

    Tumpahan kata-kata yang cenderung mengandung toxic positivity yang biasanya mengganggu. Mereka butuh pencipta pelita yang membantu dalam kegelapan, bukan pencipta jurang yang menjatuhkan.

Hitam, Pemelihara Harapan

“Kamu tidak gila, kok. Bagaimana keadaanmu?”

    Lantai yang kita duduki ini memiliki sejuta kenangan. Aku sering melihat wajah Rahayu yang ketakutan dan menemaninya duduk di tempat ini. Lalu, ia akan bercerita hingga lega.

    Tidak banyak yang tahu kunci dalam menghadapi orang-orang dengan masalah mental. Menenangkan, percaya, mendengarkan, dan dorong harapan. Ingatkan mereka bahwa kecemasan dapat diobati dan semua ini hanya sementara. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa pulih. Dengarkan saja, dan berikan nasihat hanya jika mereka meminta. Terkadang masalahnya bukan tentang seberapa sulit sebuah masalah, tetapi seberapa parah masalah itu mempengaruhi mereka. Tunjukan bahwa tidak masalah bagi mereka untuk berbagi rasa sakitnya dengan kita. Hormati privasi mereka dengan tidak membagikan apa yang mereka katakana, alangkah baiknya bagi mereka bila ada seseorang yang bisa diandalkan sebagai seorang teman.

    Dalam mendengarkan, sebaiknya kita juga jangan terlalu banyak bertanya, biarkan cerita mereka mengalir. Hindari membicarakan tentang perasaan mereka sepanjang waktu. Memang secara spontan yang ada di pikiran kita pasti membicarakan perasaan mereka, apalagi jika dimulai dengan menanyakan apakah mereka baik-baik saja. Namun, ada hal lain yang bisa dilakukan untuk membuat mereka tenang. Salah satunya adalah melakukan aktivitas yang kalian sukai, hal ini dapat membantu orang yang mengalami kecemasan mengubah fokus pemikiran negatifnya dan menanam harapan akan masa depan.

    Rahayu senang sekali menggambar dan mewarnai, bentuknya selalu berupa coretan abstrak. Aku pikir itu hanya sekedar hobi. Belakangan aku tahu, itu adalah terapi warna, salah satu cara untuk menenangkan depresi. Tujuan terapi warna adalah untuk memperbaiki ketidakseimbangan fisiologis dan psikologis dalam tubuh manusia. Terapi warna dapat digunakan untuk menyegarkan pikiran Rahayu, meningkatkan energi positif, serta memelihara harapan akan warna-warni kehidupan.

Putih, Pelebur Hati

“Kita ada di dunia ini bukan untuk melihat melalui satu sama lain, tetapi untuk saling menjaga. Kamu berharga untukku.”

    Rahayu pernah menulis di buku kegiatanku, bahwa ada begitu banyak kata untuk menggambarkan bagaimana perasaan kita tentang diri kita sendiri, bagaimana kita berpikir tentang diri kita sendiri, dan bagaimana kita bertindak terhadap diri kita sendiri.

Menurutku, “berharga” adalah kata wajib.

    Orang dengan penyakit mental yang terciprat stigma akan menutup diri karena merasa tidak diterima. Yakinkan mereka bahwa mereka berharga, bahwa mereka lebih besar dari penyakit mereka, dan layak dicintai. Berharga adalah nilai yang tidak harus dipahami, namun itu nilai yang melekat pada setiap individu. Kalian tidak harus selalu memiliki jawaban atas segala pertanyaan, kalian tidak harus selalu mengerti, tapi janganlah berpura-pura. Bagi mereka, bersedia untuk bertahan dan membantu mencari cara untuk mulai merasa lebih baik sudah lebih dari cukup.

    Bagiku, “berharga” adalah tentang menjaga keseimbangan sehari-hari di tengah pergumulan kehidupan. Bagi Rahayu, “berharga” bermuara pada masalah kesehatan mental yang serius dan kebutuhan untuk mendapatkan dukungan dan pengobatan. Bagi kita semua, “berharga” seharusnya tidak tabu untuk mereka yang berkebutuhan khusus. Leburkanlah hati untuk saling meningkatkan kesadaran, menjaga satu sama lain tanpa rasa menghakimi.

    Mungkin jika membahas masalah komunikasi dengan orang gangguan mental, kita memikirkan apa yang akan kita katakan, kemudian kita berpikir bagaimana kita akan mengatakannya. Kita tidak ingin menyinggung perasaan orang. Di sini aku berpegang erat pada komponen warna gelang Tri Datu, sebagai pencipta pelita, pemelihara harapan, dan pelebur hati.

    Kita bisa mengubah keadaan secara perlahan, mendukung individu yang berjuang setiap hari untuk mengelola gejala mereka. Berbagi dengan orang lain, percaya dan dipercaya, lebih sensitif, dan sadar pentingnya berbicara tentang kesehatan mental.

Kami pergi meninggalkan markas berdua untuk terakhir kalinya malam itu, seraya berbisik satu sama lain.

“Hati-hati dalam mengarungi hidup. Dumogi rahayu.” (Velisia Putri Natalie)

2 comments: