Gangguan Mental Menurut Islamic Worldview

 


Sumber : Google

    Islam adalah agama yang paling sempurna. Jangankan urusan besar seperti bernegara, urusan seperti masuk kamar mandi bahkan ketika hendak tidur pun Islam sudah mengatur semuanya. Terutama dalam masalah kesehatan. Terdapat salah satu hadits dari Baginda mulia Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa setiap penyakit ada obatnya kecuali satu yaitu Al Maut (kematian). Inti dari hadits tersebut adalah bahwa semua penyakit baik yang fisik maupun non fisik terdapat obatnya kecuali kematian. Penyakit non fisik seperti gangguan mental dapat disembuhkan. Namun, untuk penyembuhannya bukan saja berpatok pada aspek medis saja. Akan tetapi juga pada aspek non medis. Islam dalam menyikapi adanya gangguan mental selain menyoroti dari sisi medis, juga menyoroti dari sisi non medis, yaitu aspek spiritualitas. Pertanyaan besar dalam artikel ini adalah bagaimana menyikapi gangguan mental menurut Islamic Worldview?

 

    Sebelum menjabarkan gambaran tersebut dalam sudut pandang Islam, penulis jabarkan terlebih dahulu definisi kesehatan mental atau jiwa. Definisi kesehatan mental menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat (dalam Ariadi, 2013, h. 119) dibagi dalam beberapa pengertian, diantaranya :


1.   Terhindarnya  orang  dari  gejala-gejala  gangguan  jiwa  (neurose)  dan  gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).

2.   Kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain dan masyarakat di lingkungan tempat ia hidup.

3. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain; serta terhindar dari gangguan- gangguan dan penyakit jiwa.

4.    Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.


    Sedangkan menurut Dr. Jalaluddin (dalam Ariadi, 2013) mendefinisikan kesehatan mental sebagai suatu kondisi batin yang senantiasa dalam keadaan tenang, aman dan tentram serta upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan). Dari beberapa definisi diatas, kesehatan mental menurut Islam diintisarikan sebagai berikut terhindarnya individu dari gangguan maupun penyakit jiwa demi terwujudnya keharmonisan yang diiringi dengan kemampuan untuk menghadapi permasalahan yang terjadi sehingga terwujudnya ketenangan batin melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan).


    Disamping itu, masalah kejiwaan individu seperti gangguan mental mayoritas disalahpahami seolah penyakit ini seperti penyakit menular. Sehingga penderita gangguan mental yang seharusnya mendapat dukungan dari orang-orang terdekat malah dijauhi oleh orang-orang tersebut. Hal ini dikarenakan terbatasnya pemahaman mengenai gangguan jiwa itu sendiri.  Selain itu, tradisi dan budaya yang menghubungkan kasus gangguan jiwa menyebabkan sebagian masyarakat tidak terbuka dengan penjelasan- penjelasan yang lebih ilmiah dan memilih untuk mengenyampingkan perawatan medis dan psikiatris terhadap gangguan jiwa. Islam memiliki solusi dalam penanganan gangguan mental yang mana solusi inilah yang membedakan dengan perspektif ilmuwan dan psikolog yang hanya memerhatikan dimensi sosial dan biologis dan sedikit mengabaikan dimensi spiritual.


Gangguan mental dalam perspektif Islamic Worldview dibagi ke dalam beberapa macam yang berjangkit dalam diri individu, diantaranya (Langgulung dalam Fuad, 2016, h. 39):

a.   Riya, penyakit ini mengandung tipuan, sebab menyatakan sesuatu yang tidak sebenarnya. Orang yang berbuat riya' mengatakan atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan hakikat yang sebenarnya.

b.  Hasad dan dengki, yaitu suatu sikap yang melahirkan sakit hati apabila orang lain mendapat kesenangan dan kemuliaan, dan ingin agar kesenangan dan kemulian itu hilang dari orang tersebut dan beralih kepada dirinya.

c.    Rakus, yaitu keinginan yang berlebihan untuk makan.

d.  Was-was. Penyakit ini sebagai akibat dari bisikan hati, cita-cita, dan angan-angan dalam nafsunya dan kelezatan.

e.   Berbicara  berlebihan.  Keinginan  berbicara  banyak  merupakan  salah  satu  kwalitas manusia yang paling merusak. Hal ini dapat mengahantarkan kepada pembicaraan yang tidak berguna dan berbohong. Dan lain sebagainya.


    Setelah penulis memaparkan beberapa macam gangguan mental menurut Islamic Worldview, penanganan terhadap penyakit tersebut dapat dilakukan dengan cara berikut, yaitu melalui media psikoterapi Islam yang dibagi ke dalam beberapa metode, antara lain (Fuad, 2016, h. 43):


a.   Shalat; metode ini berdasarkan hadits yang berbunyi, ‘Diriwayatkan oleh Hudzaifah RA bahwa ia berkata; “Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merasa gundah karena sebuah perkara, maka beliau menunaikan shalat (HR. Abu Dawud)’. Hal ini tentu mengisyaratkan pentingnya ritual shalat untuk menciptakan rasa tenang dan tentram pada jiwa seseorang.

b.   Puasa; Dalam ibadah puasa terdapat unsur latihan bagi seseorang untuk bersabar menanggung beban berat kehidupan seperti menahan rasa haus dan lapar, menahan marah serta menahan untuk berbuat yang tidak baik.

c.    Haji; berbagai rangkaian ritual ibadah haji memiliki sarat akan makna bahwa manusia menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan pakaian putih tidak berjahit yang membuat individu merasa bahwa tidak ada yang patut untuk disombongkan karena pada hakikatnya semua manusia baik dari suku, ras maupun bangsa manapun sama di hadapan- Nya, tetapi yang membedakan adalah derajat taqwa.

d.   Dzikir dan Doa; dzikir dan doa memberikan efek ketenangan bagi jiwa. Seperti salah satu ayat yang berbunyi, “Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”.


    Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gangguan mental dalam Islam memiliki hubungan yang sangat erat dengan penyakit hati. Dengan metode psikoterapi Islam dapat dijadikan sebagai solusi dalam penanganan gangguan mental. (Rifka Rizqina Lutfi)

 

1.    Daftar Literatur

  1. Ariadi, Purmansyah. 2013. Kesehatan Mental Dalam Perspektif Islam. Vol. 3, No.2. Jurnal Syifa’ Medika
  2. Fuad, Ikhwan. 2016. Menjaga Kesehatan Mental Perspektif Al Qur’an dan Hadits. Journal An Nafs : Kajian dan Penelitian Psikologi

No comments