Distorsi Informasi dalam Berita



        Awal tahun 2020 ini tengah hangat diperbincangkan informasi terkait virus corona (Covid-19) yang menjadi pandemi di berbagai belahan dunia. Hingga banyak isu yang menyebarkan informasi terkait pandemi yang tidak benar. Kondisi pandemi ini diperparah dengan munculnya berbagai distorsi informasi (pemutarbalikan suatu fakta, aturan, dan sebagainya; penyimpangan-KBBI) yang terjadi di masyarakat. Banyaknya informasi simpang siur dan kekhawatiran berlebih yang timbul di masyarakat, sehingga memudahkan berbagai informasi diterima mentah-mentah dari sumber yang tidak jelas tanpa dicek kebenarannya dahulu. Akibatnya muncul berbagai hoax yang beredar di masyarakat. Lalu, apa sebenarnya hoax itu sendiri?

        Hoax adalah berita palsu atau kebohongan yang sengaja dibuat dan disebar luaskan untuk menimbulkan ketakutan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang diartikan dengan “berita bohong”. Berita bohong atau berita palsu atau hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan rumor, ilmu semu, maupun April Mop. Dengan kata lain, hoax merupakan suatu informasi yang tidak sesuai dengan yang terjadi dikenyataan. Hoax sendiri memberi dampak negatif bagi penerimanya, yang tidak lain adalah terganggunya pada kesehatan mental seseorang. Dalam sebuah studi, para psikolog sepakat bahwa berita hoax bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan mental, seperti postraumatic stress syndrome (PTSD), menimbulkan kecemasan, sampai kekerasan. Seperti yang terjadi sekarang ini, pada beredarnya berbagai informasi mengenai covid.

        Dikaitkan dengan kesehatan mental, berita hoax yang menimbulkan ancaman ini memiliki gejala yang cukup memprihatinkan. Antara lain timbulnya delusi yang meyakini sesuatu tidak nyata sesuai fakta sebenarnya, perasaan sedih yang berkepanjangan, perasaan cemas dan takut berlebihan, gangguan makan, dan marah berlebihan sampai mengamuk dan melakukan tindak kekerasan. Gejala dari gangguan mental tersebut tentu memberikan dampak buruk dagi diri dan lingkungan, dengan begitu kenapa sangat penting kita memilah berita. Di tengah kondisi pandemi ini, isu mengenai kesehatan menjadi hal yang cenderung sensitif untuk dibahas dalam masyarakat. Akibatnya banyak masyarakat yang mudah terpengaruh terhadap segala isu yang masuk tanpa menyaringnya terlebih dahulu.
    
        Dilansir dari Kompas.com, sampai dengan Kamis (12/03/2020) polisi telah menemukan sebanyak lima kasus terkait hoax virus corona (Covid-19) di Indonesia. Dalam konteks ini, masuknya berbagai informasi dari pemerintah mengenai covid-19 yang tidak tepat dapat menimbulkan respons emosional bagi masyarakat yang meliputi perasaan marah, curiga, cemas, bahkan menimbulkan depresi yang mendistorsi pikiran. Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk berhati-hati lagi dalam menyampaikan ataupun menerima berita yang kita punya dan yang terpenting kita harus menyaring dahulu kebenaran setiap berita yang kita dapatkan. Keadaan ini berakibat pada hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disampaikan pemerintah karena ketidaksesuaian informasi yang masuk. Untuk menangani masalah ini pemerintah perlu melakukan komunikasi ulang (reecommunication) kepada masyarakat agar terjadi keselarasan antara penyampai informasi dan penerima informasi.

        Namun, tidak dipungkiri jika berita hoax sendiri dapat diatasi. Seperti yang terlansir pada halaman Kompas.com, Minggu (08/01/2016), Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli. Pertama, hati-hati dengan judul provokatif yang dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu pastikan mencari referensi dari situs resmi. Kedua, cermati alamat situs telah terverifikasi sebagai institusi pers resmi atau belum. Ketiga, periksa fakta yaitu berupa peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti yang terjamin. Keempat, cek keaslian foto misalnya dengan memanfaatkan Google apakah menyajikan gambar serupa. Kelima, ikut serta grup diskusi anti-hoax dimana netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi hoax atau bukan sekaligus melihat klarifikasinya.

        Untuk menghindari penyebaran berita hoax yang masuk dan demi terjaganya kesehatan mental ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menghalaunya. Pertama, sebelum memercayai sebuah kabar, kembangkan rasa penasaranmu dan jangan langsung menyebarkan berita tanpa mengecek kebenarannya terlebih dulu. Kita perlu menggali lebih dalam apakah sumbernya akurat dan dapat dipercaya. Untuk menghindari berita hoax, ada baiknya kita lebih jeli dalam memverifikasi sumber datangnya berita, agar tidak ada kabar hoax. Kedua, periksa keaslian sumber berita. Apakah berita berisi fakta yang berasal dari sumber terpercaya atau hanya opini yang belum jelas kebenarannya. orang yang sulit menilai keaslian sebuah kabar di televisi, koran atau media sosial, cenderung mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, belajar menilai informasi yang diterima merupakan cara yang tepat dalam mempersiapkan diri dalam menangkal berita hoax. Ketiga, perringkas waktu penerbitan informasi. Sebab, banyak berita yang sudah tidak relevan, kemudian dirilis lagi untuk memanaskan suasana. Akibatnya, banyak orang yang bisa terkena dampak buruknya. Keempat, bertanya pada ahlinya. Agar didapatkan berita yang lebih pasti sangat penting untuk kita memastikan lagi dan bertanya langsung kepada ahli dalam bidang yang bersangkutan. Misalnya, bertanya kepada ahli hukum, mengenai informasi tidak jelas mengenai kasus hukum tertentu, yang ramai beredar di masyarakat. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan situs-situs yang menyediakan layanan pengecekan fakta, agar berita hoax dapat dihindari.

        Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan yaitu untuk mencegah gangguan terhadap kesehatan mental akibat berita hoax adalah dengan mencegah penyebaran berita hoax itu sendiri. Dengan begitu, diharapkan kita mampu untuk memilah kebenaran setiap informasi yang masuk dan tidak mudah terpengaruh terhadap isu yang belum tentu kebenarannya. Orang yang sulit menilai keaslian sebuah kabar di televisi, koran atau media sosial, cenderung mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya. Oleh karena itu dengan belajar menilai informasi yang diterima dapat menjadi, cara tepat dalam mempersiapkan diri dalam menangkal berita hoax. Sehingga, informasi simpang siur yang membuat kepanikan dan berdampak buruk terhadap kesehatan mental ini dapat kita cegah sendiri dengan cara yang telah dipaparkan tersebut. Terlepas dari itu semua, kita harus selalu berpikir positif dalam menanggapi mengenai segala informasi yang masuk sehingga tidak mudah terpengaruh dan berlebihan dalam menyikapinya. (Yanti Widio Astuti, Politeknik Negeri Semarang)

DAFTAR PUSTAKA

Adzani, F. (2019, September 26). Dampak Hoax pada Kesehatan Mental Ternyata Sangat Buruk, Ini Penjelasan Ilmiahnya. Retrieved from sehatq.com: https://www.sehatq.com/artikel/dampak-buruk-berita-hoax-pada- kesehatan-mental

Larassaty, L. (2020, Maret 13). Wabah Virus Corona Covid-19 Mengancam Kesehatan Mental juga, Akibat Banyaknya Berita Hoax. Retrieved from GridHealth.id: https://health.grid.id/read/352060470/wabah-virus- corona-covid-19-mengancam-kesehatan-mental-juga-akibat-banyaknya-berita-hoax

Yunita. (2017, Januari 19). Ini Cara Mengatasi Berita “Hoax” di Dunia Maya. Retrieved from kominfo.go.id: https://www.kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia- maya/0/sorotan_media

No comments