Cermat Berpendapat saat Mental Kurang Sehat




Sumber : Google


Di  dalam  tubuh  yang  kuat  terdapat  jiwa yang sehat, berlaku sebaliknya. Perkataan ini selaras dengan makna ucapan artis peran Seo Ye-ji dalam serial drama terbarunya, It’s Okay to Not Be Okay, yang diperankannya bersama aktor tampan Kim Soo-hyun. Dalam salah satu adegan dramatis, Seo Ye-ji atau Go Moon Young mengatakan bahwa ada beberapa hal yang tak bisa terpisahkan meskipun dipisahkan secara paksa. Kesehatan fisik dan psikis menjadi contoh yang patut diperhatikan.

Sehat menurut WHO diartikan sebagai keadaan sempurna fisik, mental, maupun sosial dan tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat. Definisi serupa juga tertulis dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 di mana kesehatan tersebut memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental tidak dapat dianggap remeh begitu saja.

Parameter atau tolok ukur dari kesehatan fisik dan kesehatan psikis jelas berbeda. Meski begitu, keduanya   saling   berhubungan   dan   tak   jarang   menimbulkan   gejala   klinis   berupa   psikosomatis. Psikosomatis  merupakan suatu kondisi biologis berupa rasa sakit fisik yang disebabkan oleh aktivitas psikis tak biasa, misalnya stres atau depresi yang merupakan tanda seseorang mengalami gangguan mental. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui dan menjaga kesehatan psikis atau mental masing-masing.

Indonesia patut berbangga. Kini semakin banyak orang-orang penting dalam negeri seperti influencer di berbagai platform mulai menyuarakan haknya tentang kesehatan mental, baik dalam sudut pandang pribadi maupun sebagai kampanye publik dalam meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental. Sebut saja selebgram sekaligus pebisnis Rachel Vennya dan Karin Novilda yang nampak percaya diri dengan riwayat gangguan mentalnya masing-masing.

Kedua wanita sukses tersebut telah membuktikan bahwa gangguan mental tidak seharusnya menghambat kita dalam berekspresi, salah satunya yakni kebebasan berkarya dan berpendapat di media sosial. Di Indonesia sendiri kebebasan berpendapat telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998. Di sana jelas disebutkan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak menyatakan pendapat dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 atas dasar Hak Asasi Manusia (HAM). Menyatakan pendapat juga merupakan perwujudan demokrasi dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Gangguan mental menyebabkan seseorang sulit mengendalikan emosi, mengatur hubungan sosial dengan manusia lain, juga membatasi kemampuan berkomunikasi yang baik. Komunikasi sebagai salah satu alat kendali dan motivasi merupakan wadah bagi para pengidap gangguan mental untuk tetap menyumbang aspirasi tanpa perlu merasa pesimis. Sebagai salah satu bentuk komunikasi yang jelas, berikut beberapa langkah cermat berpendapat saat mental kurang sehat.

1.    1. Larangan Self-Diagnose

Meningkatnya  kesadaran  akan  kesehatan  mental ternyata membawa efek samping yang kurang baik bagi sebagian masyarakat. Dengan banyaknya informasi yang disediakan, tak jarang seorang individu mencoba memberi diagnosa mandiri terhadap gejala-gejala yang dimiliki. Akibatnya, seseorang menjadi ikut terganggu kesehatan fisiknya karena gejala psikosomatis yang timbul.  Yang  paling  parah,  seseorang  bisa  semakin  terpuruk  karena  terbawa  sugesti  atas kesimpulan prematur yang diambilnya sendiri.

Dengan demikian, tidak disarankan bagi kita untuk menerka-nerka apa yang terjadi dengan minimnya modal pengetahuan. Hindari kegiatan “mengaku-ngaku” jika tidak ingin memperparah kondisi beban mental. Waspada terhadap gangguan mental sangatlah baik, tetapi lebih baik lagi jika kita menyerahkan tugas tersebut pada ahli kesehatan jiwa yang terdaftar di organisasi keprofesian kredibel seperti HIMPSI. 

2.    2. Cerdas Memilah Informasi

Bukan 2020 namanya jika kemudahan mengakses informasi menjadi tidak serba mudah didapat.  Namun,  informasi  yang  beredar  juga  tak  sedikit  mengandung  false  information  atau HOAX. Sebelum menambah keresahan yang ada, ada baiknya perdalam pengetahuan kita mengenai hal yang akan dibahas. Tinjau kembali keaslian keterangan media pada kasus, portal berita yang menyebarkannya, juga tanggung jawab penulis terhadap sajian berita yang disampaikan jika tak ingin opini tersebut menjadi bumerang bagi diri sendiri. 

3.    3. Bicara Sesuai Kapasitas

           “Tong kosong nyaring bunyinya,” ungkap pepatah di masa lalu. Artinya, semakin rendah value yang dimiliki seseorang maka ucapannya akan semakin tinggi. Salah satu kesalahan fatal seseorang dalam menyatakan opini adalah melewati batas kapasitasnya. Jauhkan diri dari rasa tergesa-gesa dalam mengutarakan pendapat yang bukan ranah kita jika merasa tak memiliki ilmu di dalamnya. Pendapat yang baik adalah pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan.

4.    4. Gunakan Media yang Kamu Punya 

Tak jauh berbeda dengan mengekspresikan jiwa kesenian, menyatakan pendapat juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan media-media di sekeliling. Media yang dimaksud bisa berupa benda berwujud maupun hasil kemajuan teknologi seperti halnya media sosial pribadi, kanal-kanal edukasi, maupun kegiatan diskusi baik secara daring maupun luring (luar jaringan). Bahkan, dewasa ini sudah banyak karya-karya seni yang ditujukan sebagai media protes atau sindiran, bentuk lain dari menyatakan pendapat. 

5.    5. Wakilkan Bila Terpaksa

Tidak ada yang memaksa untuk berbicara langsung jika memang kondisinya tak memungkinkan. Mungkin kamu belum siap atau memiliki trauma tertentu. Tetapi, pemikiran serta aspirasimu  begitu  berharga. Ungkapkanlah meski harus diwakili oleh orang kepercayaan. Pilih seseorang  yang  menurutmu  cukup  bisa  diandalkan tanpa luput dari pantauan. Menjadi pribadi penurut memang menyenangkan, tetapi tak ada salahnya jika sesekali menyatakan keluhan.

6.    6. Percayakan Pendapatmu Sepenuhnya dan Tenggang Rasa

Kebebasan berpendapat bersifat tak terbatas asalkan mampu dipertanggungjawabkan. Percaya sepenuhnya bahwa pendapatmu patut dipertimbangkan bukanlah egois. Hargai pendapat orang lain  dan  mau  membuka  diri atas pendapat yang bertolak belakang. Jadikan kesempatan berpendapat agar dapat berpikir lebih luas dan kritis. Sebab pada praktiknya, menyatakan pendapat bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan sebuah ikhtiar menemukan jalan tengah yang paling tepat.

Gangguan mental bukan gila. Gangguan mental tak serta-merta disebabkan adanya cacat pola pikir. Lebih  dari  itu,  gangguan  mental  pada  seorang  individu diprakarsai atas beberapa faktor yakni faktor biologi, psikologi, dan faktor sosial. Tak ada indikasi mutlak yang menjamin seseorang benar-benar sehat atau terganggu secara emosional, bahkan orang terdekat sekalipun. Tinggalkan pemikiran tua yang mengatakan  bahwa  orang  dengan  gangguan mental tidak pantas mengemukakan pendapat di hadapan publik.

Komunikasi memiliki fungsi sebagai alat kendali sekaligus ungkapan emosional pelakunya. Komunikasikanlah masalah kesehatan mentalmu pada orang yang tepat. Komunikasi yang baik bisa menjadi sarana motivasi yang hebat. Bangun kesadaran publik akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Jangan ragu, ada sesuatu yang berharga atas dirimu. Yuk, cermat berpendapat saat mental kurang sehat!. (Maulia Suci Ardi Yanti)

5 comments:

  1. Assalamualaikum wr wb.

    Artikelnya sangat informatif dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Terimakasih sudah bantu menyuarakan kesehatan mental melalui artikel ini :)

    Semangat!

    ReplyDelete
  2. Nice info! Dziękuję bardzo

    ReplyDelete