Berita Hoax, Sehatkah bagi Mental Kita?

        Hoax. Mendengar kata itu pasti sudah tidak asing lagi dari telinga kita. Berita bohong yang seolah- olah benar adanya, kini kian menyebar, yang tak salah lagi berasal dari oknum-oknum tak bertanggung jawab. Banyak dari mereka yang menjadikan hal tersebut sebagai bahan lelucon untuk kesenangan pribadi. Namun apakah mereka tidak berpikir jika hal tersebut akan membahayakan dirinya sendiri juga orang- orang pengguna media sosial yang tidak tahu kebenarannya?

        Dampak dari berita hoax sangatlah serius, terutama dalam hal kesehatan. Dikutip dari situs kompas.com, menurut para psikolog, berita hoax dapat menggangu kesehatan mental, seperti PTSD. PTSD (Post-Traumatic Stress Syndrome) merupakan gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami, menyaksikan, atau mengetahui peristiwa yang tidak menyenangkan, mengejutkan, menakutkan, serta berbahaya yang menyebabkan trauma. Gangguan mental tersebut dapat menyerang siapa saja dengan gejala yang berbeda-beda, seperti : 

· Stres berat
        Penderita PTSD atau gangguan stres pascatrauma akan merasakan stres berat karena mengingat sesuatu yang tidak diinginkan secara berulang, seperti halnya berita hoax. Bahkan beberapa dari mereka sampai mengalami mimpi buruk. Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan berpengaruh juga terhadap kesehatan fisik dan imun tubuh. Padahal, di tengah pandemi virus Corona ini, imun tubuh harus tetap dijaga agar keadaan tubuh selalu fit dan terhindar dari paparan virus Corona. 

· Cemas yang berlebihan
        Mereka yang menerima berita hoax tanpa tahu kebenarannya akan mengalami kecemasan yang berlebihan, sulit tidur, merasa kesepian, dan selalu tidak konsentrasi. Mereka takut apa yang diberitakan akan benar-benar terjadi sehingga mereka selalu waspada terhadap sesuatu yang mungkin membahayakannya. Contohnya saja berita hoax tentang virus Corona. Ada yang menyebarkan hoax jika virus Corona dapat ditularkan melalui nyamuk. Padahal sampai saat ini, belum ada informasi maupun bukti yang menunjukkan bahwa virus Corona dapat ditularkan oleh nyamuk. Hal tersebut tentu saja membuat orang-orang yang kurang mengerti menjadi takut dan panik. Selain itu, terdapat juga isu hoax jika pengering tangan dapat membunuh virus Corona. Dimana isu hoax tersebut akhirnya dimanfaatkan beberapa pedagang dengan menjual pengering tangan berharga mahal. Ironis, bukan? Di tengah kecemasan banyak orang karena berita hoax tersebut, justru terdapat oknum yang mengambil keuntungan untuk kepentingan pribadi.

· Pemikiran yang negatif (negative thinking)
        Berita hoax dapat membuat seseorang menjadi negative thinking. Mereka selalu beranggapan negatif dan curiga tentang orang lain di sekitarnya, diri sendiri, dan lingkungan. Bahkan beberapa dari mereka menganggap masa depannya sudah hancur sehingga putus asa untuk meraih impiannya. Jika pikiran negatif tersebut terus dipelihara, maka akan menghasilkan mental paranoid. Dimana penderitanya merasa dianiaya, tidak dipercaya, tidak dihargai, dan rendah diri.

                                       
Figure 1

· Perubahan perilaku
        Menghindar. Dalam berperilaku, penderita PTSD cenderung mengurung diri dan mencoba untuk terus menghindar dari kegiatan, tempat, pembicaraan dan orang yang akan mengingatkan mereka dari kejadian traumatis. Seperti, dibenci akibat ketahuan membuat atau menyebarkan berita hoax. Hal tersebut dilakukan agar mereka tidak memikirkan peristiwa traumatis yang menyakitkan. 

· Emosional
        Mereka yang membuat maupun menyebarkan berita hoax akan merasakan malu dan bersalah jika kebohongan beritanya telah diketahui. Sehingga banyak dari mereka yang sampai melukai diri sendiri, menjadi emosional atau sensitif terhadap sesuatu, dan melakukan kejahatan karena merasa dikucilkan atau tidak dipedulikan.

        Membahayakan, bukan? Hanya karena berita hoax, kesehatan mental menjadi terganggu. Lalu apakah bisa kita mengendalikan dampak negatif penyebaran berita hoax tersebut? Jawabannya adalah bisa.

        Yang pertama, bijaklah dalam menggunakan media sosial. Jangan terlalu mudah percaya dan langsung menyebarkan berita yang didapat. Cari tahu terlebih dahulu apakah sumbernya terpercaya dan masuk akal. Misalnya dengan memeriksa waktu penerbitan berita. Hal tersebut dikarenakan banyak berita yang sudah kedaluwarsa, kemudian dirilis lagi untuk menghebohkan suasana. Selain itu, dapat juga dengan langsung bertanya pada orang yang ahli di bidangnya. Dengan begitu, kita akan mengetahui kebenaran berita yang kita dapat. 
        
        Yang kedua, lawanlah pikiran stres dan cemas akibat berita hoax dengan humor, tertawa misalnya. Humor atau candaan terbukti efektif menghilangkan rasa cemas dan stres akibat sering dihadapkan dengan sesuatu yang menekan pikiran. Seperti berita hoax, yang tidak jarang di dalamnya terdapat ribuan komentar pemicu konflik. Dimana beberapa individu saling memprovokasi berita yang akhirnya menimbulkan perselisihan, dendam, bahkan perpecahan. Nah, dengan candaan tersebut setidaknya kita tidak akan berpikir serius tentang komentar orang lain yang membuat kita menjadi ingin berkomentar buruk juga. Dan secara tidak langsung kita juga meminimalisir peristiwa konflik yang terjadi akibat tajamnya perbedaan pendapat.

Figure 2 

        Lalu yang ketiga, istirahatlah dari berita untuk sementara waktu. Alihkan pikiran dengan melakukan kegiatan positif lainnya seperti berkebun, olahraga, atau meditasi. Dengan begitu emosi kita tetap stabil dan terhindar dari pemikiran yang negatif.

        Dan yang terakhir, lakukanlah Psychological First Aid (PFA). Dilansir dari situs pijarpsikologi.org, PFA merupakan tindakan dukungan psikologis yang diberikan kepada mereka yang baru saja mengalami situasi tidak menyenangkan (peristiwa kritis). Tindakan tersebut sangat mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial penderita gangguan mental. Harapan mereka untuk melanjutkan hidup menjadi terbangun dan luka akibat peristiwa traumatis juga menjadi sembuh. Menurut WHO, terdapat tiga prinsip dasar Psychological First Aid, yaitu :

a. Look (lihat) merupakan prinsip melihat, mengamati, serta memastikan situasi dan kondisi sekitar, apakah cukup aman atau tidak bagi seseorang. Dalam artian aman dan jauh dari pihak atau kondisi  yang membuatnya tidak nyaman karena terdapat info hoax atau provokatif. Ketidaknyamanan tersebut dapat ditunjukkan dengan perasaan cemas dan panik.

b. Listen (dengar), yaitu prinsip mendengarkan dan memahami apa yang dibutuhkan penderita. Untuk membantu penderita agar emosinya kembali stabil, dapat dilakukan dengan menciptakan suasana yang tenang, sehingga penderita mempunyai keinginan untuk membagikan ceritanya. Lalu, apabila penderita tersebut sedang bercerita, maka penting untuk mendengarkannya dengan perhatian penuh dan memahami apa yang dibutuhkan setelah mendengar ceritanya.

c. Jika masalah emosional yang diakibatkan oleh berita hoax cukup berat, maka dapat melakukan prinsip Link (terhubung). Yaitu dengan menghubungkan orang yang terdampak berita hoax dengan profesional di bidang kesehatan mental.

        Gangguan mental akibat berita hoax. Begitu dahsyat namun banyak diremehkan. Dan setelah mengetahui begitu menderitanya korban berita hoax, masihkah kita mau untuk menciptakan atau bahkan menyebarkan berita hoax? Teruntuk siapa pun pengguna media sosial, sudahilah. Marilah kita berhenti melakukan tindakan yang kurang bijak. Mulailah membangun sesuatu yang positif dengan rajin mencari kebenaran dan memberikan informasi yang aktual. Jangan tunda hal tersebut, karena jika tidak dimulai sekarang, kapan lagi? (Aulia Salsabila Irfanindya Putri, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya) 


No comments