Banjir Hoaks dan Pengaruhnya pada Kesehatan Mental di Masa Pandemi

 


Sumber : Google

Apakah Anda masih ingat dengan pesan berantai di media sosial yang menyatakan bahwa thermo gun, alat pengukur suhu tubuh berbentuk pistol, bisa merusak otak dan memicu kanker? Klaim tersebut lahir karena argumen bahwa radiasi sinar laser yang diarahkan ke dahi bisa merusak jaringan otak manusia.

Apa perasaan Anda saat membaca pesan itu? Adakah rasa panik dan cemas yang timbul? Apa hal itu mempengaruhi reaksi Anda selanjutnya, misalnya menghindari diri dari penggunaan thermo gun karena takut terkena radiasinya? Bila ya, berarti ini adalah bukti bagaimana informasi dan berita bohong (selanjutnya disebut hoaks) sudah mempengaruhi kesehatan mental Anda.

Di masa pandemi COVID-19 saat ini, berbagai aspek kehidupan berubah. Termasuk bagaimana informasi masuk dan ke luar dari berbagai medium yang digunakan manusia di seluruh dunia, serta pola akses dan paparan manusia terhadap informasi itu sendiri. Sebelum akses internet meluas, manusia mengandalkan surat kabar, radio, atau televisi untuk memberikan mereka informasi dalam bentuk karya jurnalistik (berita). Hal ini diilustrasikan Jane Suiter dalam penelitian Post-truth Politics (2016) sebagai hubungan saling ketergantungan antara birokrat/pemerintah dengan jurnalis, di  mana jurnalis  berperan  sebagai  penyaring informasi  sekaligus  pelapor informasi,  sementara pemerintah berperan menyebarkan kebijakanya kepada rakyat. Tidak semua orang bisa menyampaikan informasi yang tersebar/tersiar luas. Mereka harus melalui meja redaksi, tangan jurnalis, serta proses seleksi yang ketat.

Tapi kini realitanya berbeda. Tak seperti media massa yang memiliki sosok gatekeeper (penyaring informasi, pengarah pemberitaan dalam sosok redaktur atau pemimpin redaksi), nyaris tidak ada “saringan” apapun di media sosial dan internet. Akibatnya, semua orang bisa mengatakan dan membaca hal apa saja, termasuk hoaks. Mereka yang tidak terbiasa untuk cermat dalam memilah informasi ini berpotensi menelan mentah-mentah apa yang ia dapatkan. Ketika yang ia dapatkan itu tidak benar, maka kesehatan mentalnya lah yang akan langsung terdampak.

Junling Gao dan kawan-kawan, dalam penelitian mereka yang berjudul Mental health problems and social media exposure during COVID-19 outbreak (2020), memaparkan terjadi peningkatan hoaks dan laporan palsu di media sosial selama pandemi ini. Hal ini berdampak pada meningkatnya ketakutan masyarakat yang membuat mereka bingung, cemas, sampai depresi, yang mana perlahan mengganggu kesehatan mental mereka. Ditambah lagi, terjadi peningkatan penggunaan/paparan masyarakat terhadap media sosial selama masa pandemi. Padahal di media sosial-lah hoaks banyak bersarang. Terganggunya kesehatan mental pun jadi hal yang tak terhindarkan.

Ada dua pendapat mengenai bagaimana hoaks mempengaruhi cara berpikir dan kesehatan mental kita. Peneliti neurologi kognitif dari Monash University, Julian Matthews, lewat tulisan How fake news gets into our minds, and what you can do to resist it (2019) menjelaskan bagaimana manusia sebenarnya mempunyai tendensi untuk mempercayai hal yang memang ingin kita percayai. Di satu sisi, otak manusia diatur untuk mempercayai hal yang berasal dari sumber terpercaya. Tapi di sisi lain, informasi dari sumber terpercaya itu tidak selalu bisa memperkuat keyakinan manusia dalam memandang sebuah hal.

Bisa saja kita lebih mengingat informasi yang berlawanan dengan informasi yang kita tahu seharusnya kita percayai. Hal ini terjadi ketika kita sangat meyakini suatu hal, tapi sumber kredibel malah mengatakan bahwa keyakinan kita ini tidak tepat. Sementara itu, hoaks memang dirancang untuk menarik perhatian. Itu akan mengundang reaksi emosional di benak manusia.

Mungkin Anda masih ingat hoaks yang menyebutkan bahwa COVID-19 adalah virus yang sengaja dibuat negara Cina untuk membasmi kelompok-kelompok tertentu di dunia, salah satunya adalah umat  Islam. Ini adalah salah satu hoaks ter-“besar” yang berhasil meraih perhatian banyak orang. Kolom komentar pun dibanjiri luapan emosi orang-orang yang memercayai informasi tersebut, yang menyaci-maki dan mengutuk Cina.

Sejak dahulu kala, rakyat Indonesia memang memiliki prasangka tertentu terhadap Cina, baik negaranya maupun orang-orangnya. Sudah berpuluh-bahkan beratus tahun dipercaya, prasangka ini pun akhirnya diinternalisasi oleh sebagian besar orang Indonesia, yang kemudian sulit memandang Cina dari sisi positif. Maka, ketika informasi yang sangat menyinggung seperti ini mencuat ke permukaan, meledaklah emosi tersebut.

Bias masyarakat modern membuat permasalahhan kian kompleks. Nick Rochlin dalam penelitiannya yang berjudul Fake news: belief in post-truth (2017), menyebut bahwa saat ini kita sedang berada di era post-truth, era di mana pengaruh fakta tidak sebesar pengaruh emosi, keyakinan, dan nilai-nilai pribadi. Ciri utama yang menandai era ini adalah keberadaan hoaks, yang bukan hanya berisi kebohongan, tapi juga ditujukan untuk menyerang kepercayaan manusia yang sebelumnya telah ada. 

Hal itu diperkuat dengan pendapat psikeater forensik yang mendirikan media konsultasi kesehatan mental Broadcast Thought, Vasilis K. Pozios. Ujarnya, hoaks bekerja dengan memprovokasi respons emosional dari pembaca, seperti kemarahan, kecemasan, praduga, bahkan depresi, lewat pemberian informasi yang mengganggu cara berpikir kita. Ketika kita membaca hoaks, kita mencernamnya dengan otak emosional kita, alih-alih otak rasional. 

Oleh karena itu, Pozios menekankan pentingnya mengevaluasi semua informasi yang kita terima. Apakah itu memicu pemikiran emosional, atau justru pemikiran rasional? Bila informasi itu terlampau memacu otak emosional tanpa memberi ruang yang sama pada otak rasional, kita harus meredefinisi apakah sumber itu memang layak kita jadikan sumber informasi. Terlebih lagi, setiap orang memiliki pemicu emosional yang berbeda, tergantung pengalaman dan latar belakang pribadinya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk tetap memenuhi kebutuhan akan informasi, tapi juga sembari “menyaring” informasi yang kita terima guna menjaga kesehatan mental. Hal tersebut adalah membiasakan diri untuk mencari informasi dari sumber yang kredibel, misalnya media massa, penelitian, atau buku. Dari ketiga sumber ini, yang umumnya kerap menjebak kita sebagai warga net adalah membedakan mana media massa yang kredibel dan mana yang tidak, serta mana yang media massa dan mana yang bukan (hanya website atau blog pribadi seseorang). Cara mudah membedakan media yang kredibel dan yang tidak adalah dengan melihat berapa lama media itu sudah berdiri serta jumlah pengikut/pembacanya.

Sementara cara membedakan mana media dan yang bukan media adalah melihat bentuk perusahaan dan konten-konten yang dikeluarkan. Media massa akan banyak mengeluarkan berita, yaitu sebuah jenis tulisan yang faktual, dan berisi pendapat dari berbagai pihak yang kredibel dengan topik (narasumber), bukan pendapat pribadi seseorang atau jurnalis itu sendiri. Bila Anda membaca sebuah konten yang mengatasnamakan sebuah media, atau menyebut konten itu sebagai berita, tapi isinya adalah pendapat pribadi seseorang, berpikir skeptislah dan verifikasi ke media terpercaya. (Selma Kirana Haryadi)

Daftar Pustaka

Gao, J. (2020). Mental health problems and social media exposure during COVID-19 outbreak. San Francisco: Plos One.

Matthews, J. (2019, April 17). How fake news gets into our minds, and what you can do to resist it .

Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/how-fake-news-gets-into-our- minds-and-what-you-can-do-to-resist-it-114921

Rochlin, Nick. (2017). Fake news: belief in post-truth. Emerald Publishing Limited: United Kingdom

Suiter, J. (2016). Post-truth Politics. Political Insight, 25–27.

No comments