A-Z : Definisi Gangguan Mental, Keyakinan yang Keliru dan Cara Mengatasi Bias Informasi

(sumber :  google)


Jangan-jangan Kamu Dirasuki Jin? 
Barangkali kita harus mengenal apakah sebenarnya makna gangguan mental itu. Masyarakat khusunya warga Indonesia, kiranya masih kurang dalam memahami gangguan mental. Sehingga kurangnya edukasi berkaitan dengan pemahaman dan kesadaran dalam kesehatan mental menciptakan terjadinya bias ataupun kesalahan dalam memahami hal tersebut. 

Contohnya saja adalah praktik pemasungan yang masih ada di Indonesia. Pasung sendiri berarti adalah sebuah praktik berupa pengekangan, pengasingan, pengisolasian yang membatasi fisik seseorang dengan berbagai alat, misalnya seperti tali, balok kayu, ataupun sebuah ruang isolasi. Hal ini dapat dikritisi dari adanya data Riset Kesehatan (Riskesdas) yang menunjukkan praktik pemasungan pasien ODGJ sebanyak 31,5% pada periode Agustus-Oktober 2019. 

Selain praktik pemasungan kurangnya pemahaman terhadap kesehatan mental terwujud dalam adanya stigma ‘Kerasukan Jin’ bagi individu yang nyatanya sedang mengalami gangguan mental. Stigma ini menghalangi individu untuk mencari bantuan profesional. Individu seharusnya dapat tertolong namun sebaliknya malah menerima labelling dan penanganan yang salah kaprah. 

Untuk menghindari hal tersebut, ada beberapa ciri yang harus diperhatikan. Penggolongan tersebut membantu kita dalam mendefinisikan individu dengan tingkat kesehatan mental yang baik. Pola paling umum adalah individu memiliki gaya hidup positif, produktif dan mampu menanamkan sifat-sifat positif dalam dirinya. Selain itu perilaku yang ditampilkan tidaklah melanggar norma dan aturan yang ada di masyarakat. Individu juga mampu membangun hubungan interpersonal yang baik di lingkungan sosialnya, seperti mampu menahan diri dan menghargai pemikiran atau perilaku orang lain. Terakhir individu tersebut dapat memiliki regulasi diri yang baik dan mampu membuat strategi coping terhadap tekanan maupun masalah dengan cara yang adaptif. 

Psikolog, Psikiater, dan si primbon “DSM-V” 
Manusia yang berkaitan erat dengan kehidupan sejatinya tidak bisa lepas dari adanya masalah. Individu yang resisten dengan masalah memiliki kemampuan problem solving yang baik, namun ada juga individu yang kurang bisa melakukan coping meskipun individu tersebut sudah meminta bantuan dari orang terdekat. Berbagai cara dapat dilakukan salah satunya adalah mencari bantuan kepada tenaga profesional. 

Tenaga profesional yang dikenal dalam masalah yang berhubungan dengan psikis adalah psikolog dan psikiater. Namun, apakah sebenarnya beda dari psikolog dan psikiater? Mengingat masih banyak orang yang menyamakan profesi kedua pakar kejiwaan tersebut. 

Psikolog adalah seorang ahli dalam ilmu psikologi yang berfokus membantu klien dalam menyelesaikan masalah terkait dengan kognitif, perilaku, dan afeksi. Untuk mendapatkan gelar psikolog seseorang harus menempuh program S1 dan mendapatkan gelar sarjana psikologi kemudian melanjutkan program profesi dan mendapat gelar magister. Psikolog dapat menjadi psikolog yang bergerak pada bidang praktisi dan bidang keilmuan. Seorang praktisi psikologi dapat membuka klinik psikologi atau bekerja sama dengan biro lain dalam melayani praktik psikologi. Sedangkan psikolog yang bergerak pada bidang keilmuan dapat menjadi peneliti, mengkaji dan mengembangan penelitian sesuai dengan perkembangan atau kebutuhan pada masyarakat. Psikolog dapat melakukan intervensi seperti terapi dan psikoedukasi. Selain itu seorang psikolog juga dapat memberikan asesmen, misalnya pemberian tes intelegensi untuk tes masuk sekolah dasar, psikotes, asesmen kepribadian, dll. Jenis-jenis psikolog yang biasa ditemui adalah psikolog klinis, psikolog perkembangan, psikolog industri dan organisasi, dan psikolog pendidikan.

Sedangkan psikiater adalah seorang yang menempuh program kedokteran pada bidang psikiatri. Seorang psikiater dapat memberikan obat-obatan pada klien selain memberikan sesi konseling. Psikiater menempuh program dokter umum lalu menempuh jenjang spesialis ilmu kedokteran jiwa. 

Kedua profesi yang bergerak pada bidang kesehatan mental tersebut dalam mendiagnosis atau memberikan suatu penanganan kepada klien mengacu pada kriteria gangguan yang tertera pada buku DSM-V. Di dalam buku ini dijelaskan terkait dengan klasifikasi gangguan-gangguan psikologis yang mana akan memudahkan psikolog atau psikiater untuk mendiagnosis klien. Klasifikasi ini juga berguna untuk membedakan treatment yang akan diberikan kepada klien sesuai dengan diagnosis penyakit. DSM sendiri banyak mengalami perkembangan dan perubahan dari klasifikasi gangguan atau penyakit mental. DSM-V diterbitkan pada tahun 2013 dengan sistem kategorisasi yang lebih sempurna. Ketika klien memutuskan untuk menemui tenaga profesional hal pertama yang perlu diperhatikan sebelum mendapatkan treatment adalah pemberian informed consent (IC). Psikolog atau psikiater akan mengajukan lembaran persetujuan kepada klien yang berisi tentang prosedur pengobatan, lama pengobatan, dan biaya pengobatan. Diharapkan nantinya klien tidak akan merasa rugi dan merasa aman dalam menjalani proses penyembuhan. Tenaga profesional yang terlatih dapat menghindarkan klien dari adanya kesalahan informasi, bias ataupun self- diagnosis. 

Apakah Aku Melakukan Self-Diagnosis? 
Sering kali kita menjumpai sebuah postingan ataupun berita yang menyuguhkan informasi tentang gangguan psikologi. Lalu secara tidak sadar kita mulai menghubungkan daftar gejala yang tertulis di postingan tersebut dengan apa yang dialami. Kejadian ini dapat mengarahkan individu ke self-diagnosis. 

Self-Diagnosis adalah proses di mana individu mengobservasi dirinya dengan informasi yang berkaitan dengan gejala-gejala suatu penyakit. Individu kemudian mengidentifikasikan dirinya berdasarkan penyakit atau gangguan tanpa konsultasi dari medis. 

Self-diagnosis dapat dihindari dengan memperhatikan dampak-dampak yang diberikan, melakukan penyuntingan bacaan ataupun memperhatikan sumber bacaan. Dampak self-diagnosis yang pertama adalah kebingungan dalam proses kognitif. Di mana individu akan berada dalam kondisi mengupayakan diri untuk menyakini informasi tersebut. Upaya-upaya tersebut nantinya akan memberikan dampak negatif berupa proses labelling diri yang mana individu akan mulai merasa dan berperilaku sesuai dengan apa yang dia yakini terhadap penyakit atau gangguan tersebut. Contohnya adalah saat seseorang melakukan self-diagnosis terhadap gangguan mood yaitu depresi. Setelah mengenali beberapa simpton depresi, individu mulai mengkaitkan keadaan yang dia miliki dengan mengidentifikasikan simpton depresi tersebut. Keyakinan ini berpengaruh pada emosi dan perilaku individu tersebut seperti perasaan tidak bersemangat, sedih, kesepian ataupun perasaan hampa. Sebagaimana emosi ini tergambarkan dalam individu yang terdiagnosa gangguan depresi. dalam hal perilaku bisa diamati mungkin saja individu akan memunculkan perilaku mengasingkan diri dan parahnya adalah fikiran untuk mengakhiri hidup. 

Apa yang perlu diperhatikan? 
Media sosial ataupun platform berita dibarengi dengan perkembangan teknologi pada era sekarang dalam penyebarannya menjadi sangat cepat dan mudah diakses bagi setiap individu. Perlu diperhatikan karena media penyebaran yang cepat sering kali informasi yang diberikan belum tentu valid sumbernya. Maka dari itu pembaca harus berhati-hati dalam memilih dan memilah informasi khususnya dari internet. Sumber yang bisa dikatakan aman dan valid adalah publikasi jurnal ilimah, berita yang dipublikasikan atau dari web resmi suatu badan. Misalnya adalah jurnal psikologi yang ditebitkan oleh APA (American Psychological Association), jurnal-jurnal dari universitas badan atau terkait, musalnya HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). (Sofi Dara Santi, Universitas Negeri Malang)

No comments